SEMARANG — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah resmi mencatatkan sejarah sebagai daerah perintis pendidikan koperasi di sekolah. Program ini tidak hanya bersifat seremonial, melainkan dirancang sebagai kurikulum terstruktur yang akan diterapkan secara berkelanjutan di seluruh jenjang pendidikan, mulai dari SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, hingga SLB.
Langkah ini diambil untuk menanamkan pemahaman tentang ekonomi gotong royong sejak dini. Dengan jumlah siswa mencapai 6,38 juta jiwa, Provinsi Jawa Tengah menjadi provinsi dengan cakupan peserta didik terbanyak yang mendapatkan literasi perkoperasian secara formal di bangku sekolah.
Materi yang diajarkan mencakup prinsip dasar koperasi, tata kelola kelembagaan, hingga praktik simulasi usaha bersama. Tidak hanya teori, siswa juga akan dikenalkan pada model koperasi sekolah yang bisa langsung dijalankan sebagai laboratorium belajar.
Kurikulum ini diintegrasikan ke dalam mata pelajaran yang sudah ada, bukan sebagai mata pelajaran baru yang berdiri sendiri. Dengan begitu, sekolah tidak perlu menambah beban jam belajar tambahan.
Tenaga pengajar yang terlibat adalah guru-guru yang telah mendapat pelatihan khusus dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah bersama Dinas Koperasi dan UKM setempat. Pelatihan mencakup metodologi pengajaran koperasi yang aplikatif sesuai jenjang usia siswa.
Untuk jenjang SD, pendekatan yang digunakan lebih banyak melalui permainan dan cerita. Sementara untuk SMA/SMK, materi diperdalam pada aspek tata kelola dan laporan keuangan koperasi.
Koperasi dinilai sebagai pilar ekonomi kerakyatan yang relevan dengan karakter masyarakat Jawa Tengah. Dengan membekali siswa sejak sekolah, pemerintah berharap lahir generasi muda yang tidak hanya paham konsep koperasi, tetapi juga mampu mendirikan dan mengelola koperasi secara mandiri di kemudian hari.
Selain itu, pendidikan koperasi diharapkan bisa menjadi benteng bagi siswa dari praktik ekonomi yang tidak sehat, seperti pinjaman online ilegal atau jeratan rentenir. Literasi keuangan berbasis gotong royong menjadi bekal hidup yang konkret.
Penerapan pendidikan koperasi di sekolah-sekolah Jawa Tengah sudah mulai berjalan pada tahun ajaran ini. Pemerintah provinsi menargetkan seluruh sekolah di 35 kabupaten/kota telah mengimplementasikan kurikulum ini secara bertahap dalam dua tahun ke depan.
Evaluasi berkala akan dilakukan untuk memastikan efektivitas materi dan metode pengajaran. Jika dinilai berhasil, program ini bisa menjadi model bagi provinsi lain di Indonesia.
Sejumlah sekolah di Jawa Tengah sebenarnya sudah memiliki koperasi sekolah yang aktif. Dengan adanya kebijakan ini, praktik koperasi sekolah yang sudah berjalan akan dijadikan sebagai studi kasus dan laboratorium bagi siswa lain.
Pemerintah juga mendorong agar setiap sekolah memiliki koperasi yang dikelola oleh siswa dengan pendampingan guru. Hasil usaha koperasi sekolah nantinya bisa digunakan untuk mendukung kegiatan ekstrakurikuler atau beasiswa bagi siswa kurang mampu.