BOYOLALI — Musim kemarau yang melanda wilayah Jawa Tengah membawa risiko kesehatan tersendiri bagi anak-anak. Dinkes Boyolali mencatat, udara kering dan tingginya kadar debu serta polusi menjadi faktor utama peningkatan kasus ISPA pada balita dan anak usia sekolah.
Dinkes Boyolali mengingatkan para orang tua untuk tidak mengabaikan gejala awal ISPA. Beberapa tanda bahaya yang harus segera dikenali meliputi sesak napas, napas cepat, hingga demam tinggi yang tak kunjung turun.
Jika anak menunjukkan gejala tersebut, orang tua diimbau untuk tidak menunda dan segera membawanya ke puskesmas atau rumah sakit terdekat. Penanganan dini dapat mencegah kondisi bertambah parah.
Selain mengenali gejala, Dinkes Boyolali juga mendorong orang tua untuk menjaga kelembapan udara di dalam rumah. Lingkungan yang terlalu kering dapat memperparah iritasi saluran pernapasan anak.
Membersihkan rumah secara rutin dari debu dan memastikan sirkulasi udara tetap baik menjadi langkah preventif yang dianjurkan. Penggunaan masker saat anak beraktivitas di luar rumah juga bisa menjadi perlindungan tambahan.
Pemerintah daerah melalui Dinkes Boyolali terus menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat, terutama di wilayah padat penduduk dan kawasan rawan polusi. Orang tua diminta tidak menunggu hingga anak terlihat lemas atau kebiruan untuk mencari pertolongan medis.
Langkah cepat dan tepat dinilai krusial untuk menekan angka kesakitan akibat ISPA pada anak selama musim kemarau tahun ini.