SEMARANG — Kisah sukses pengusaha batik asal Semarang, Cinta, membuktikan bahwa keterbatasan modal bukanlah penghalang untuk menembus pasar global. Bermodal awal Rp50 ribu, usahanya kini merambah ke sejumlah negara di Eropa, berkat pemanfaatan platform digital LinkUMKM milik PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
Cinta memulai usahanya dari skala rumahan. Dengan dana yang sangat terbatas, ia membeli bahan baku batik secukupnya dan mulai memproduksi di kamar kontrakannya. Kunci utama yang mengubah skala bisnisnya adalah keputusan untuk bergabung dengan ekosistem LinkUMKM BRI.
"Modal awal saya cuma Rp50 ribu. Saya beli kain dan pewarna seadanya. Setelah ikut pelatihan dan onboarding di LinkUMKM, omzet saya mulai naik perlahan. Sekarang, pesanan dari luar negeri mulai masuk," ujar Cinta dalam keterangan resmi yang diterima redaksi, Selasa.
Platform LinkUMKM yang menjadi katalis pertumbuhan usaha Cinta, tercatat telah diakses oleh lebih dari 15,57 juta pelaku UMKM di seluruh Indonesia hingga akhir Maret 2026. Angka ini menunjukkan adopsi digital di sektor usaha kecil dan menengah terus mengalami peningkatan signifikan.
Melalui platform tersebut, pelaku UMKM tidak hanya bisa memasarkan produk, tetapi juga mengakses pembiayaan, pelatihan digital marketing, hingga layanan logistik. Bagi Cinta, fitur yang paling membantunya adalah koneksi langsung ke pembeli potensial di luar negeri tanpa perantara.
Produk batik Cinta yang mengusung motif khas Semarang, seperti ikon Warak Ngendog dan blenduk, mulai dilirik pembeli dari Belanda, Jerman, dan Perancis. Proses ekspor yang sebelumnya terasa rumit, kini terbantu oleh sistem kurasi dan pendampingan ekspor yang disediakan oleh BRI melalui LinkUMKM.
"Dulu saya pikir ekspor itu urusan pengusaha besar. Ternyata dengan pendampingan yang benar dan platform yang tepat, UMKM kecil seperti saya bisa ikut bermain di pasar global," tambah Cinta.
Keberhasilan Cinta menjadi salah satu contoh konkret bagaimana digitalisasi perbankan mampu mendorong inklusi ekonomi. LinkUMKM tidak hanya berfungsi sebagai etalase digital, tetapi juga sebagai pusat data dan akses permodalan yang terintegrasi.
BRI mencatat, jumlah pengguna aktif platform ini terus bertambah seiring dengan bertambahnya fitur yang memudahkan pelaku usaha di daerah. Untuk wilayah Jawa Tengah sendiri, adopsi LinkUMKM tergolong tinggi, terutama di kota-kota sentra industri kreatif seperti Semarang, Solo, dan Pekalongan.