TEGAL — Ratusan warga, pelaku wisata, dan komunitas pecinta lingkungan di kawasan Guci akan mengawali rangkaian Ruwat Bumi dengan kegiatan resik bumi pada 12 Juni 2026. Mereka turun langsung memunguti sampah dan membersihkan aliran sungai di sekitar objek wisata air panas tersebut.
Bagi masyarakat Guci, membersihkan alam bukan sekadar kerja bakti. Ada filosofi yang menyertainya. Sungai yang bersih menjadi simbol hati yang bersih, sementara lingkungan yang terjaga adalah bentuk tanggung jawab manusia terhadap alam yang telah memberi kehidupan.
Semangat menjaga alam berlanjut keesokan harinya, 13 Juni 2026, melalui kegiatan nandur kekayon atau penanaman pohon. Bibit-bibit tanaman akan ditanam di sejumlah titik kawasan wisata sebagai upaya menjaga kelestarian ekosistem sekaligus memperkuat kawasan hijau di lereng Gunung Slamet.
Nuansa religius dan budaya mengisi rangkaian acara pada 14 Juni 2026. Festival hadroh yang diikuti sekitar 30 kelompok dari berbagai wilayah Kabupaten Tegal akan menggema di kawasan wisata. Tabuhan rebana dan lantunan shalawat menjadi pengingat bahwa tradisi dan nilai-nilai spiritual tumbuh berdampingan di tengah masyarakat.
Puncak acara Ruwat Bumi Guci akan dimeriahkan dengan kirab gunungan dan larung sesaji. Tradisi ini menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas berkah alam yang melimpah. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung hingga 17 Juni 2026, bertepatan dengan momentum Tahun Baru Islam 1 Muharram yang oleh masyarakat Jawa disebut bulan Suro.
Tradisi Ruwat Bumi di Guci merupakan agenda tahunan yang tidak hanya menjadi atraksi wisata, tetapi juga sarana memperkuat identitas budaya dan kepedulian lingkungan warga Tegal.