SEMARANG — Rencana Pemkot Semarang untuk merevitalisasi delapan pasar tradisional mendapat sorotan dari DPRD setempat. Dewan meminta agar setiap proyek pembangunan dikaji secara mendalam dan teliti, bukan sekadar menghabiskan anggaran tanpa memastikan keberlanjutan aktivitas ekonomi di dalamnya.
Ketua Komisi B DPRD Kota Semarang, Mararas, menekankan pentingnya studi kelayakan yang matang. Menurutnya, banyak pasar tradisional yang telah direvitalisasi justru mengalami penurunan jumlah pengunjung setelah bangunan baru diresmikan.
"Jangan sampai setelah dibangun, pasar malah mati. Ini yang harus diantisipasi sejak awal," ujar Mararas dalam keterangannya, Senin (17/3/2025).
Pemkot Semarang telah mengajukan delapan lokasi pasar tradisional yang masuk dalam program revitalisasi. Namun, DPRD mendorong agar proses pembangunan tidak berhenti pada aspek fisik semata.
Mararas menambahkan, revitalisasi pasar tradisional kerap menghadapi masalah klasik: bangunan baru megah, tetapi pedagang tidak mampu membayar sewa yang melonjak. Akibatnya, banyak lapak kosong dan pasar kehilangan fungsi awalnya sebagai pusat ekonomi warga.
"Kami tidak ingin proyek ini hanya menjadi proyek fisik. Harus ada jaminan bahwa pasar tetap hidup dan pedagang sejahtera," tegasnya.
DPRD berharap Pemkot Semarang segera menyusun kajian akademis yang melibatkan akademisi, asosiasi pedagang, dan dinas terkait. Hasil kajian itu nantinya akan menjadi dasar pelaksanaan revitalisasi agar tepat sasaran dan berkelanjutan.
Belum ada jadwal pasti kapan revitalisasi delapan pasar tersebut dimulai. Namun, DPRD meminta agar proses perencanaan tidak terburu-buru demi menghindari kesalahan yang sama seperti proyek serupa di daerah lain.