JAWA TENGAH — Kebijakan harga Pertamax yang tak seragam antardaerah bukan hal baru. Pertamina Patra Niaga menetapkan harga berdasarkan struktur biaya di tiap wilayah. Selain harga acuan pasar internasional, komponen distribusi, ongkos logistik, biaya penyimpanan, hingga margin usaha ikut menentukan banderol akhir di SPBU.
Kondisi geografis menjadi faktor utama. Wilayah dengan akses distribusi sulit, seperti daerah kepulauan atau pedalaman, menanggung biaya transportasi lebih tinggi. Akibatnya, harga jual lebih mahal ketimbang daerah yang dekat kilang atau terminal bahan bakar utama.
Meski sudah naik, harga Pertamax saat ini masih di bawah level keekonomian. Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memperkirakan harga keekonomian BBM RON 92 seharusnya berada di kisaran Rp 20.000 hingga Rp 21.000 per liter. Artinya, pemerintah dan Pertamina masih menanggung selisih agar daya beli masyarakat tidak tertekan.
Konsumen bisa memastikan harga di SPBU terdekat melalui kanal resmi Pertamina. Informasi terkini tersedia di aplikasi MyPertamina maupun situs web Pertamina Patra Niaga. Fluktuasi harga diperkirakan masih terjadi seiring pergerakan minyak dunia dan kebijakan subsidi energi nasional.
Kompas.com berkomitmen menyajikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang.