Ilmuwan Peringatkan Gelombang Panas Ekstrem di Eropa Akibat Krisis Iklim, Suhu Lampaui Rekor 1976

Penulis: Budi Santoso  •  Selasa, 30 Juni 2026 | 12:27:31 WIB
Ilmuwan memperingatkan gelombang panas ekstrem di Eropa melampaui rekor suhu tahun 1976 akibat krisis iklim.

SEMARANG — Fenomena kubah panas atau heat dome yang menjebak udara panas di atas Eropa, ditambah aliran udara hangat dari Gurun Sahara, menghasilkan suhu yang jauh lebih tinggi dibandingkan musim panas biasanya. Analisis terbaru menunjukkan bahwa akumulasi polusi karbon di atmosfer mempercepat laju kenaikan suhu ekstrem tersebut.

Suhu 2024 Jauh Lebih Panas Dibanding Gelombang Panas 1976

Jika dibandingkan dengan gelombang panas besar yang melanda Eropa pada 1976, kondisi saat ini jauh lebih ekstrem. Pada 1976, suhu tercatat hanya naik 3,5 derajat Celcius—angka yang kini dianggap sejuk oleh para peneliti.

“Ini adalah gelombang panas paling parah dan meluas yang pernah melanda wilayah sebesar ini di Eropa,” ujar Theodore Keeping, peneliti cuaca ekstrem dari Imperial College London, dalam pernyataan yang dikutip dari laporan WWA.

Peneliti Bantah Kaitan dengan El Nino

World Weather Attribution (WWA) menggunakan data suhu aktual dan prakiraan cuaca berakurasi tinggi untuk mengkaji tiga hari dengan suhu paling ekstrem di kawasan tersebut. Dalam penelitiannya, para ilmuwan membantah anggapan bahwa gelombang panas ini semata-mata akibat variasi iklim alami, termasuk pengaruh fenomena El Nino yang berkembang di Samudra Pasifik.

Menurut mereka, sistem tekanan tinggi yang menjebak udara panas di atas Eropa sebenarnya merupakan pola umum saat musim panas. Namun, pemanasan global yang terus meningkat membuat pola tersebut kini menghasilkan suhu yang jauh lebih tinggi dari biasanya.

Investasi Mitigasi Dinilai Belum Cukup

Carolina Pereira Marghinda dari Red Cross Red Crescent Climate Centre mengungkapkan bahwa sejak gelombang panas besar melanda Eropa pada 2003, banyak negara telah mengalokasikan investasi untuk memperkuat sistem peringatan dini dan menyusun strategi mitigasi. Upaya tersebut terbukti mampu mengurangi jumlah korban jiwa dalam berbagai peristiwa cuaca ekstrem.

Meski demikian, Marghinda menekankan bahwa intensitas gelombang panas yang semakin meningkat akibat perubahan iklim membuat langkah-langkah yang ada saat ini tidak lagi cukup. “Risiko yang terus bertambah membutuhkan respons yang lebih besar,” jelasnya.

Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia dari Fenomena Ini?

Fenomena ini menjadi peringatan bagi negara tropis seperti Indonesia, yang juga rentan terhadap dampak perubahan iklim. Meskipun tidak mengalami heat dome seperti Eropa, pola cuaca ekstrem—termasuk gelombang panas lokal dan peningkatan suhu permukaan—mulai terasa di sejumlah wilayah.

Para ilmuwan memperingatkan bahwa tanpa pengendalian emisi karbon yang signifikan, kemungkinan terjadinya kondisi lebih ekstrem di masa depan akan semakin besar, tidak hanya di Eropa tetapi juga di belahan dunia lain, termasuk Asia Tenggara. (*)

Reporter: Budi Santoso
Sumber: beritajateng.tv This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top