Petani Tadah Hujan Jateng Diminta Tahan Diri, BMKG Sebut Awal Musim Hujan Mundur Sebulan

Penulis: Budi Santoso  •  Jumat, 02 Oktober 2026 | 08:01:01 WIB
Petani tadah hujan di Jawa Tengah diminta menahan diri sebelum menentukan waktu tanam.

SEMARANG — Hujan yang mengguyur sebagian wilayah Jawa Tengah dalam beberapa waktu terakhir bukan penanda musim hujan telah tiba. Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Tengah Goeroeh Tjiptanto menyebut fenomena itu sebagai hujan tipuan, istilah yang di kalangan petani Jawa dikenal sebagai hujan salah mangsa.

Pola hujan pada masa peralihan masih bersifat sporadis dan belum konsisten. Karena itu, petani yang mengandalkan air hujan diminta menahan diri sebelum menentukan waktu tanam.

Mengapa Petani Tadah Hujan Paling Rentan

Goeroeh menjelaskan, petani tadah hujan menghadapi risiko lebih besar dibanding mereka yang menggarap lahan beririgasi teknis. Sumber air mereka sepenuhnya bergantung pada curah hujan, sehingga salah membaca tanda alam bisa berujung gagal tanam.

"Kalau ada irigasi teknis, ada air, mungkin sudah bisa melakukannya. Tapi yang kami sampaikan ini adalah petani-petani yang menggunakan air dengan tadah hujan," jelasnya.

Hingga saat ini, Jawa Tengah masih berada dalam periode musim kemarau. Kemarau 2026 berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena dipengaruhi fenomena iklim global, salah satunya El Nino yang sempat berada pada intensitas kuat hingga sedang.

"Karena kemarau tahun 2026 ini ada fenomena global yang mempengaruhi, salah satunya adalah El Nino," kata Goeroeh.

Awal Musim Hujan Mundur, Puncaknya Beda Antarwilayah

Keterlambatan awal musim hujan di Jateng mencapai tiga dasarian atau sekitar satu bulan di sejumlah daerah. Meski datang lebih lambat, Goeroeh menegaskan musim hujan tahun ini diperkirakan bersifat normal dan tidak berlangsung lebih lama.

Puncak musim hujan juga tidak serentak. Sebagian wilayah mencapai puncaknya pada Januari, sementara daerah lain baru mengalaminya pada Februari hingga Maret.

Peningkatan curah hujan pada periode puncak itu perlu diwaspadai karena berpotensi memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.

Jangan Pakai Satu Patokan untuk Semua Daerah

Masyarakat diimbau tidak menggunakan satu patokan untuk seluruh wilayah. Waktu datangnya hujan perlu dilihat berdasarkan kondisi masing-masing daerah, dan satu kali hujan tidak bisa dijadikan penanda musim hujan telah benar-benar tiba.

Bagi petani tadah hujan, informasi awal musim hujan dari BMKG menjadi acuan penting untuk menentukan waktu penyemaian dan penanaman.

"Khusus petani tadah hujan, informasi awal musim hujan menjadi penting untuk menentukan waktu penyemaian dan penanaman, agar tidak terjebak hujan yang hanya bersifat sementara," tutupnya.

Masyarakat diminta terus mengikuti informasi cuaca dan iklim terbaru dari BMKG sebelum menentukan aktivitas yang berkaitan dengan musim.

Reporter: Budi Santoso
Sumber: indoraya.news This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top