JAWA TENGAH — Bantahan keras disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran dalam sebuah pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah, Selasa waktu setempat. Ia secara spesifik merujuk pada laporan-laporan yang beredar mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan damai antara Teheran dan Washington sebagai sesuatu yang prematur.
“Laporan mengenai adanya kesepakatan damai masih bersifat spekulatif,” kata juru bicara Kemlu Iran sebagaimana dikutip dari siaran televisi pemerintah, tanpa merinci lebih lanjut poin-poin yang dibantah.
Pernyataan ini merupakan respons langsung terhadap klaim Trump yang sebelumnya mengindikasikan bahwa negosiasi dengan Iran berada pada tahap akhir dan sebuah kesepakatan akan segera diumumkan. Trump, yang kini kembali mencalonkan diri dalam pemilihan presiden AS, kerap menyebut keberhasilan diplomatik sebagai salah satu pencapaian kampanyenya.
Namun, sikap Teheran justru menunjukkan jarak yang masih lebar. Dengan menyebut laporan itu spekulatif, Iran secara efektif menutup pintu terhadap narasi yang dibangun oleh kubu Trump. Belum ada pernyataan resmi dari pemerintahan Presiden Joe Biden atau Kementerian Luar Negeri AS mengenai klaim dan bantahan yang saling bertolak belakang ini.
Hubungan kedua negara memang belum menunjukkan titik terang sejak AS secara sepihak keluar dari Kesepakatan Nuklir Iran (JCPOA) pada 2018 di era Trump. Kebijakan tekanan maksimum yang diterapkan saat itu justru mendorong Iran mempercepat program pengayaan uraniumnya.
Meskipun pembicaraan tidak langsung sempat berlangsung di Wina, negosiasi menemui jalan buntu dalam beberapa bulan terakhir. Klaim Trump tentang “kesepakatan yang sudah dekat” muncul di tengah kebuntuan tersebut, membuat banyak pengamat meragukan validitas pernyataannya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi lebih lanjut dari pihak ketiga atau badan internasional mengenai adanya perkembangan baru dalam proses diplomasi AS-Iran. Sikap resmi Teheran yang membantah secara terbuka menjadi pukulan bagi narasi yang coba dibangun oleh kubu Trump.