SEMARANG — Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa mahasiswa memiliki hak penuh untuk berekspresi dan menyampaikan pendapat di muka umum, sebagaimana dijamin undang-undang. Namun, ia mengingatkan agar penyampaian kritik tetap berpedoman pada etika, norma, dan aturan yang berlaku.
"Mahasiswa di kampus bebas untuk berekspresi. Mahasiswa juga berhak menyampaikan pendapat di muka umum, itu ada undang-undangnya. Saya menghargai itu sebagai bentuk kepedulian adik-adik mahasiswa kepada bangsa dan negara," ujar Luthfi di Balai Diklat Kementerian Agama RI, Kota Semarang.
Dalam kesempatan itu, Luthfi juga melecut semangat para mahasiswa untuk tidak berhenti pada kritik semata. Ia mendorong mereka agar menyalurkan energi dan idealismenya dalam bentuk gagasan yang konstruktif bagi pembangunan.
"Mahasiswa adalah agen perubahan. Mempunyai energi lebih. Jadi energi lebih ini harus disalurkan dengan banyak menyampaikan ide-ide konstruktif," kata dia.
Menurut Luthfi, urgensi kontribusi mahasiswa semakin besar di tengah situasi global yang terus berubah. Ia menyebut sejumlah tekanan yang dihadapi bangsa, mulai dari dampak perang Ukraina-Rusia, konflik Timur Tengah, hingga perang Iran-Amerika Serikat dan Israel. Perkembangan teknologi artificial intelligence (AI) dan tuntutan kualitas sumber daya manusia unggul juga menjadi tantangan tersendiri.
Di hadapan para kader HMI, Luthfi juga menyoroti kondisi fiskal yang menekan kepala daerah. Menurutnya, pemerintah daerah tidak bisa lagi hanya mengandalkan APBD dan pendapatan asli daerah untuk membangun.
"Lalu sekarang ada juga tekanan fiskal yang membuat kepala daerah harus lebih kreatif dalam membangun daerahnya," jelasnya.
Ia menekankan bahwa kolaborasi semua komponen masyarakat, termasuk mahasiswa, menjadi sangat penting. Pemerintah membutuhkan suntikan ide dan kreativitas dari berbagai pihak untuk menciptakan pembangunan yang berkelanjutan.
"Kita gandeng semua, termasuk mahasiswa. Kita harus ciptakan Jawa Tengah yang adem ayem," ujar dia.
Sementara itu, Ketua Umum HMI Cabang Semarang M Nabil Muallif mengatakan bahwa kegiatan Training Raya Akbar yang digelar bertujuan untuk membentuk kader-kader yang mampu menjadi penentu daya saing bangsa. Kegiatan tersebut menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengasah kapasitas kepemimpinan dan keilmuan.