SDN Tegalayu Solo Hanya Jaring Lima Murid Baru di SPMB 2026, Target Satu Rombel Tak Tercapai

Penulis: Andi Pratama  •  Kamis, 02 Juli 2026 | 00:16:01 WIB
SDN Tegalayu Solo hanya menerima lima murid baru pada SPMB 2026, jauh di bawah target satu rombongan belajar.

SURAKARTA — SDN Tegalayu yang berlokasi di Kota Solo menghadapi situasi sulit dalam penerimaan murid baru. Pada SPMB 2026, sekolah dasar negeri itu hanya mendapatkan lima pendaftar, jauh dari target ideal satu rombongan belajar yang biasanya membutuhkan minimal 20 siswa.

Target Rombel Jauh dari Harapan

Kepala SDN Tegalayu Sutanto menyebutkan angka tersebut masih kurang untuk memenuhi kebutuhan satu kelas. Padahal, sekolah telah berupaya melakukan sosialisasi ke lingkungan sekitar sejak beberapa bulan terakhir.

“Kami hanya menjaring lima murid baru. Itu pun belum bisa dikatakan satu rombel penuh,” ujarnya kepada awak media, Selasa (16/4/2026).

Penyebab Sepinya Peminat di Sekolah Negeri

Fenomena ini tidak lepas dari persaingan ketat dengan sekolah swasta dan perubahan demografi di kawasan Tegalayu. Banyak orang tua kini lebih memilih menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan swasta yang dinilai memiliki fasilitas lebih lengkap.

Selain itu, jumlah anak usia sekolah di sekitar lokasi SDN Tegalayu juga mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini diperparah dengan perpindahan penduduk ke wilayah pinggiran Solo yang lebih baru.

Dampak pada Operasional Sekolah

Dengan jumlah murid baru yang minim, SDN Tegalayu terancam kekurangan siswa untuk mengisi kelas satu. Jika kondisi ini berlanjut, bukan tidak mungkin sekolah harus melakukan merger atau kebijakan efisiensi dari Dinas Pendidikan Kota Solo.

Sutanto berharap ada kebijakan afirmatif dari pemkot untuk membantu sekolah-sekolah yang kekurangan peminat. “Kami berharap ada perhatian khusus agar SDN Tegalayu tetap bisa beroperasi dengan baik,” imbuhnya.

Apa Langkah Selanjutnya?

Pihak sekolah masih menunggu keputusan resmi dari Dinas Pendidikan terkait nasib siswa yang sudah mendaftar. Sementara itu, sosialisasi door-to-door ke rumah warga terus dilakukan untuk menarik minat orang tua yang masih ragu.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Pemkot Surakarta mengenai langkah strategis untuk menyelamatkan sekolah-sekolah dengan jumlah murid minim. Namun, isu ini menjadi perhatian publik karena mencerminkan tantangan pendidikan dasar di perkotaan.

Reporter: Andi Pratama
Sumber: radarsolo.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top