KENDAL — Ancaman kekeringan mulai terasa di sejumlah wilayah pertanian Kendal. Pemerintah kabupaten setempat memastikan telah menyiapkan sejumlah langkah antisipatif agar produktivitas petani tidak anjlok meski memasuki puncak musim kemarau.
Bupati Dyah Kartika Permanasari, yang akrab disapa Tika, mengungkapkan tiga langkah utama yang sudah disiapkan. Pertama, penyediaan pompa air untuk menyedot sumber air yang masih tersedia. Kedua, pembuatan sumur bor di titik-titik yang rawan kekurangan air. Ketiga, sosialisasi percepatan tanam kepada petani.
“Kami sudah menyiapkan beberapa upaya, diantaranya menyediakan pompa air, melakukan sosialisasi percepatan tanam, serta pembuatan sumur bor di beberapa titik wilayah yang kerap mengalami kekurangan air,” ujar Bupati Tika, Selasa 14 Juli 2026.
Langkah-langkah itu, kata dia, merupakan tindak lanjut dari rapat koordinasi bersama pemerintah pusat. Sebab, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memperingatkan potensi kekeringan panjang di Jawa Tengah.
Di tingkat desa, dampak kekeringan sudah dirasakan langsung. Kepala Desa Tabet, Kecamatan Limbangan, Supriyadi, mengungkapkan debit air irigasi mulai menurun. Untuk mencegah perebutan air antar petani, pemerintah desa bersama kelompok tani menerapkan sistem penggiliran.
“Irigasinya kami gilir per blok supaya semua lahan petani bisa mendapatkan air. Di Desa Tabet ini melalui musyawarah warga dan para petani, disepakati pembagian air agar merata,” katanya.
Supriyadi menjelaskan, setiap blok lahan mendapat jatah pengairan secara bergantian. Begitu satu blok selesai, petugas akan memindahkan aliran ke blok berikutnya. Sistem ini, menurutnya, lahir dari pengalaman pahit saat musim kemarau sebelumnya.
“Dulu sering terjadi rebutan air. Akhirnya kami kumpulkan para petani untuk bermusyawarah agar semua mendapat bagian secara merata. Alhamdulillah sampai sekarang sistem ini berjalan dengan baik,” pungkasnya.
Pendekatan musyawarah disebut menjadi kunci utama keberhasilan sistem gilir irigasi di Desa Tabet. Alih-alih menunggu campur tangan aparat, warga dan kelompok tani duduk bersama menyusun jadwal yang disepakati semua pihak.
“Jadi ada petugasnya. Dibagi per blok, nanti kalau satu blok selesai pindah ke blok lain. Melalui toleransi dan sinergitas ini kami berharap para petani tidak lagi berebut air,” jelas Supriyadi.
Pemkab Kendal sendiri terus memantau perkembangan di lapangan. Jika kekeringan meluas, bantuan pompa air tambahan dan suplai air bersih akan segera didistribusikan ke desa-desa yang paling terdampak.