KUDUS — SMP 2 Kudus mendorong siswa tidak hanya menjadi konsumen konten digital, tetapi juga produsen karya kreatif melalui aplikasi Gelidis. Program ini mewajibkan setiap siswa aktif membaca dan menulis di era digital dengan mengunggah tugas ke platform khusus sekolah.
Kepala SMP 2 Kudus, In Setyorini, mengatakan bahwa tugas-tugas yang dikumpulkan siswa telah menghasilkan ratusan karya. "Hasilnya, ratusan karya siswa berhasil dikompilasikan, bahkan beberapa di antaranya sukses dibukukan dan didaftarkan ke Perpustakaan Nasional untuk mendapatkan International Standard Book Number (ISBN)," ungkapnya.
Setiap karya yang masuk ke sistem Gelidis melewati proses filterisasi ketat. Pihak sekolah menegaskan bahwa karya siswa wajib mengandung unsur edukatif dan bebas dari konten Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA). "Syarat utamanya harus mendidik dan membangun karakter positif siswa," ujar In Setyorini.
Hingga saat ini, jenis karya yang paling mendominasi adalah poster digital. Namun, banyak juga siswa yang menyetorkan video pendek dan rekaman audio kreatif. Seluruh hasil kreativitas tersebut diintegrasikan melalui platform digital resmi sekolah yang dapat diakses publik melalui tautan s.id/gelidis/.
Program Gelidis dirancang secara terstruktur melalui mata pelajaran projek kurikuler. Targetnya melejitkan kemampuan literasi dasar siswa menuju literasi numerasi, dan puncaknya pada penguasaan literasi digital.
Keberhasilan program ini dibuktikan dengan digelarnya acara “Gelar Karya” sebagai panggung apresiasi. Kualitas karya digital siswa SMP 2 Kudus sudah teruji di tingkat luar; salah satu siswa berhasil menyabet Juara 1 lomba poster dalam ajang FLS2N tingkat Kabupaten Kudus.
In Setyorini menambahkan, “Inovasi Gelidis membuktikan bahwa dengan pendampingan yang tepat, gawai dan media sosial bisa transformasikan menjadi laboratorium karya yang produktif dan berprestasi.”