JEPARA — Alokasi bantuan irigasi untuk lahan pertanian di Kabupaten Jepara meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025, bantuan pengairan dan sarana pendukung pertanian hanya menyentuh sekitar 70 titik, sedangkan tahun ini jumlahnya melonjak menjadi 133 titik.
Kepala Bidang Sarana Prasarana dan Penyuluhan Pertanian DKPP Jepara, Atho’illah, mengatakan dari 133 titik tersebut, 94 titik sudah berjalan. Sisanya, 39 titik, masih dalam tahap pelaksanaan dan perencanaan.
“Untuk mendukung ketahanan pangan, salah satunya lewat penguatan irigasi. Ini juga untuk mengantisipasi musim kemarau,” terang Atho’ kepada Joglo Jateng, Minggu (9/8/2026).
Program yang telah berjalan tersebut bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui Kementerian Pertanian. Bantuan ini menyasar kelompok tani di berbagai wilayah Jepara dengan rincian sebagai berikut:
Atho’illah merinci, untuk pembangunan embung, anggaran yang dialokasikan sekitar Rp 120 juta per titik. Sementara itu, irigasi perpompaan sumur dalam mendapat alokasi lebih besar, yakni Rp 155 juta per titik.
Untuk irigasi perpompaan air permukaan menggunakan diesel, anggarannya Rp 150 juta per titik. Adapun irigasi perpipaan dialokasikan Rp 97 juta per titik dan operasi pemeliharaan jaringan irigasi tersier Rp 100 juta per titik.
Khusus program optimalisasi lahan, Jepara memperoleh alokasi seluas 812 hektare dengan anggaran sekitar Rp 3,7 miliar. Besaran bantuan untuk Oplah tersebut adalah Rp 4,6 juta per hektare.
Atho’ menjelaskan, bantuan ini tidak hanya untuk memperbaiki dan menjaga jaringan pengairan, tetapi juga memastikan lahan pertanian tetap produktif. “Ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga produksi padi,” ucapnya.
Ada syarat yang harus dipenuhi kelompok tani penerima bantuan. Lahan yang menjadi sasaran harus berupa lahan yang ditanami padi dan dalam satu musim tanam ditargetkan menghasilkan panen. “Lahannya harus padi. Dalam satu musim tanam harus panen,” katanya.
Selain kegiatan yang sudah berjalan, masih ada 39 titik yang menyusul. Dari jumlah tersebut, 18 titik merupakan rehabilitasi jaringan irigasi (RJI) yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Jawa Tengah (APBD). Proyek ini masih dalam tahap perencanaan di Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov).
Sementara 21 titik lainnya merupakan program dari aspirasi Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Rinciannya terdiri dari 1 titik embung, 5 titik irigasi perpompaan sumur dalam, 6 titik operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi tersier, serta 9 titik Jalan Usaha Tani (JUT).
“Untuk pembangunan JUT, anggaran yang dialokasikan sekitar Rp 110 juta per titik,” sebutnya.
Total kelompok tani di Jepara tercatat ada 94. Sekitar 39 kelompok tani masuk dalam kegiatan yang akan berjalan pada tahun ini.