WONOGIRI — Kesenian Kethek Ogleng, kuliner khas, dan pesona Waduk Gajah Mungkur menjadi materi diplomasi budaya yang dibawa Wonogiri ke forum internasional. Sekolah Tinggi Agama Islam Mulia Astuti (STAIMAS) Wonogiri mempertemukan mahasiswa dan akademisi Indonesia dengan Fatoni University, Patani, Thailand, dalam webinar bertajuk "Membina Komunikasi Budaya Indonesia dan Thailand", Minggu (9/8/2026).
Forum berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting dan diikuti puluhan peserta dari kalangan mahasiswa, akademisi, serta masyarakat umum. Kegiatan ini menjadi seri perdana program akademik internasional kedua institusi.
Webinar tidak berhenti sebagai forum pertukaran materi. Dari Thailand Selatan, peserta diperkenalkan potensi alam dan sejarah Patani. Sementara dari Wonogiri, berbagai kekayaan daerah mulai dari tradisi, bahasa, kuliner, kesenian, hingga destinasi wisata ikut dibawa ke ruang diskusi internasional.
Ketua STAIMAS Wonogiri, Atik Nurfatmawati, menegaskan pentingnya forum lintas negara tersebut sebagai ruang memperluas wawasan mahasiswa sekaligus memperkuat diplomasi kebudayaan. Ia berharap kerja sama dengan Fatoni University dapat terus dikembangkan menjadi wadah pertukaran gagasan akademik yang konstruktif dan berkelanjutan.
Forum yang dipandu Ahmat Sobari As Sidiq ini menghadirkan empat pemateri dari kedua negara. Ibrohem Waemamu, mahasiswa Fatoni University, mengawali pemaparan dengan memperkenalkan potensi Bang Pu melalui perspektif keindahan alam dan pengembangan wisata berbasis komunitas.
Ruslan Lateh, mahasiswa Fatoni University lainnya, mengulas nilai sejarah serta jejak peradaban di kawasan Kota Purba Yarang. Dua materi tersebut menjadi gambaran bahwa budaya dan pariwisata tidak dapat dilepaskan dari perjalanan sejarah sebuah daerah.
Dari sisi Wonogiri, Rika Tri Azhari dari Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) STAIMAS membahas pentingnya komunikasi dalam menjaga identitas sosial, tradisi, serta bahasa lokal di tengah perubahan zaman. Ia menekankan bahwa budaya yang tidak diperkenalkan dan diwariskan berisiko semakin jauh dari generasi muda.
Aulia Damayanti Alqori dari Program Studi Ekonomi Syariah membawakan materi bertajuk "Rasa dari Wonogiri". Kuliner lokal tidak hanya dipandang sebagai makanan, tetapi juga bagian dari identitas daerah yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata.
Azzahra Putri Naysilla melengkapi panggung budaya dengan memperkenalkan Waduk Gajah Mungkur, salah satu ikon wisata Wonogiri, melalui pembahasan potensi dan keindahan destinasi yang menjadi bagian penting dari identitas pariwisata daerah.
Kesenian tradisional Kethek Ogleng yang identik dengan gerakan dan karakter kera turut diperkenalkan dalam forum tersebut. Kesenian yang memiliki akar perkembangan budaya di kawasan Wonogiri dan Pacitan, Jawa Timur, ini menjadi contoh bagaimana kesenian tradisional dapat menjadi media komunikasi budaya.
Pertunjukan Kethek Ogleng bukan hanya soal gerakan tari, tetapi juga membawa cerita, karakter, nilai tradisi, serta identitas masyarakat yang melahirkannya. Ketika kesenian ini diperkenalkan di forum internasional, yang dibawa sebenarnya bukan sekadar nama sebuah pertunjukan, melainkan cerita tentang masyarakat, tradisi, dan kreativitas seni yang hidup di Wonogiri.