Pemkot Salatiga Tawarkan Lahan 17.658 m² di Argomulyo untuk Proyek Hunian Lansia dan Klinik Geriatri, Ini Insentifnya

Penulis: Deni Kurniawan  •  Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:53:31 WIB
Wali Kota Salatiga Robby Hernawan meninjau lokasi lahan seluas 17.658 meter persegi di Argomulyo yang ditawarkan untuk proyek hunian lansia dan klinik geriatri.

SALATIGA — Pemkot Salatiga tidak hanya menjual tanah, tetapi juga menawarkan skema kolaborasi investasi jangka panjang di sektor kesehatan. Melalui Peraturan Wali Kota (Perwali) Nomor 33 Tahun 2025, calon investor yang akan menggarap proyek Tropical Wellness Village di Argomulyo mendapatkan kemudahan perizinan terintegrasi lewat OSS-RBA serta fasilitasi infrastruktur.

Wali Kota Salatiga, Robby Hernawan, menyebut proyek ini dirancang untuk menjawab kebutuhan populasi lansia yang terus meningkat. "Salatiga tidak hanya membangun fasilitas kesehatan, tetapi juga membangun masa depan. Kami ingin menghadirkan kota yang nyaman untuk dihuni, sehat untuk dinikmati, dan bermartabat bagi seluruh masyarakat, khususnya para lansia," ujarnya dalam keterangan resmi pada Selasa (11/8/2026).

Dua Blok Lahan untuk Layanan Medis dan 300 Kamar Lansia

Lahan yang ditawarkan terbagi menjadi dua zona dengan fungsi berbeda. Blok A seluas 5.784 meter persegi disiapkan sebagai pusat layanan medis yang mencakup klinik geriatri, fisioterapi, layanan diagnostik, hingga homecare. Sementara itu, Blok B dengan luas 11.844 meter persegi akan dikembangkan menjadi area hunian.

Di blok hunian tersebut, Pemkot merencanakan pembangunan 300 kamar lansia, 20 villa lansia, dan 10 guest room. Fasilitas penunjang seperti community hub dan healing garden juga masuk dalam masterplan kawasan yang berada di dekat Jalan Kyai Mbilung ini.

Mengapa Salatiga Butuh Ekosistem Lansia Terpadu?

Kebutuhan akan fasilitas ini bukan tanpa dasar. Secara nasional, Indonesia telah memasuki fase ageing population dengan proporsi lansia mencapai 11,93 persen atau sekitar 33,94 juta jiwa pada 2025. Kondisi serupa terjadi di Salatiga, di mana lebih dari separuh rumah tangga di kota tersebut memiliki anggota lansia.

Robby menekankan bahwa kawasan ini dirancang bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ekosistem terpadu yang memadukan rehabilitasi dan aktivitas sosial. "Dengan konsep tersebut, kebutuhan lansia diharapkan dapat dipenuhi secara menyeluruh, mulai dari kesehatan fisik dan mental hingga interaksi sosial dan kualitas hidup," katanya.

Kemudahan Investasi yang Ditawarkan Pemkot

Untuk menarik minat dunia usaha, Pemkot Salatiga menyiapkan paket kemudahan yang tertuang dalam Perwali Nomor 33 Tahun 2025. Beberapa insentif yang ditawarkan meliputi:

  • Insentif fiskal bagi investor yang berkomitmen membangun kawasan.
  • Perizinan berusaha terintegrasi melalui sistem OSS-RBA.
  • Fasilitasi lahan dan dukungan infrastruktur sesuai ketentuan yang berlaku.

Pemkot membuka peluang kolaborasi dengan pihak ketiga untuk merealisasikan proyek ini. "Kami membuka peluang kolaborasi dengan dunia usaha dan investor untuk merealisasikan proyek tersebut," ujar Robby.

Langkah ini menjadikan Salatiga salah satu kota di Jawa Tengah yang secara aktif menawarkan skema investasi publik-swasta untuk kebutuhan sosial yang spesifik, menyasar tren demografis yang diprediksi terus tumbuh dalam dua dekade ke depan.

Reporter: Deni Kurniawan
Sumber: lingkarjateng.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top