SEMARANG — Kinerja industri pengolahan di Jawa Tengah menunjukkan akselerasi signifikan pada periode April-Juni 2026. Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan sektor ini mencapai 5,03 persen secara tahunan, didorong oleh permintaan global yang membaik terhadap produk manufaktur lokal.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Tengah, M. Noor Nugraha, menyebut ekspor menjadi motor utama pertumbuhan. Sepanjang periode laporan, pengiriman barang industri ke luar negeri melonjak 41,26 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Komoditas tekstil dan produk tekstil (TPT), kayu dan furnitur, alas kaki, serta bahan makanan menjadi penyumbang utama devisa ekspor Jawa Tengah. Meningkatnya permintaan dari pasar global disebut sebagai pemicu utama.
"Peningkatan kinerja Industri Pengolahan terutama dipengaruhi oleh peningkatan kinerja ekspor barang industri yang tumbuh 41,26 persen (yoy) pada periode laporan," kata Noor dalam keterangan resminya, Rabu (5/8/2026).
Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) BI turut mengonfirmasi optimisme pelaku usaha. Indikator Saldo Bersih Tertimbang (SBT) untuk sektor industri pengolahan berada di zona positif, menandakan ekspansi usaha masih berlanjut.
Selain ekspor, investasi juga menunjukkan tren menguat. BI mencatat Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 8,84 persen (yoy) pada Triwulan II 2026.
Realisasi penanaman modal meningkat dari Rp23,73 triliun pada Triwulan II 2025 menjadi Rp25,53 triliun pada periode yang sama tahun ini. Angka ini mencerminkan keyakinan investor terhadap prospek ekonomi daerah.
"Pembangunan kawasan industri dan Proyek Strategis Nasional yang terus berlanjut mendorong peningkatan investasi Jawa Tengah," pungkas Noor.
Dengan pangsa lebih dari sepertiga PDRB, industri pengolahan menjadi sektor yang paling menentukan arah perekonomian Jawa Tengah. Kinerja positif sektor ini dipastikan menopang pertumbuhan ekonomi daerah secara keseluruhan.
Percepatan pembangunan kawasan industri baru di sejumlah kabupaten, seperti Kendal dan Batang, diharapkan mampu memperkuat rantai pasok manufaktur dan menyerap lebih banyak tenaga kerja lokal. Pemerintah provinsi menargetkan hilirisasi industri terus berjalan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas ekspor.