BATANG — Kolaborasi strategis yang melibatkan Indosat Ooredoo Hutchison, Ooredoo Group, Nokia, dan NVIDIA ini tidak hanya membangun pusat data konvensional, melainkan fondasi ekosistem AI nasional yang utuh. Dengan estimasi investasi mencapai USD50 juta per megawatt, total nilai proyek untuk kapasitas 1 GW berpotensi menembus angka USD50 miliar atau setara ratusan triliun rupiah.
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menyatakan proyek ini menjadi sinyal kuat meningkatnya kepercayaan investor global terhadap prospek ekonomi digital Indonesia. Pembangunan akan dilakukan secara bertahap, dimulai dari 200 MW di Batang sebelum akhirnya dikembangkan hingga menyentuh kapasitas penuh 1 GW dalam tiga tahun.
Berbeda dengan data center pada umumnya, AI Factory mengintegrasikan seluruh rantai kebutuhan komputasi AI dalam satu ekosistem. Infrastruktur ini mencakup GPU berperforma tinggi, jaringan, penyimpanan data, hingga layanan GPU-as-a-Service yang dikelola secara end-to-end.
Di dalamnya juga terdapat sistem orkestrasi dan pengelolaan beban kerja (workload management) yang dirancang khusus untuk mengembangkan serta menjalankan berbagai layanan kecerdasan artifisial. "Yang dibangun bukan sekadar pusat data atau infrastruktur komputasi. Ini adalah fondasi ekosistem AI nasional yang utuh, mulai dari kapasitas komputasi, layanan AI, hingga pengembangan model bahasa Indonesia yang dapat dimanfaatkan berbagai sektor," ujar Meutya di Jakarta, Jumat (7/8/2026).
Salah satu daya tarik utama proyek ini adalah penempatan Sahabat-AI, model bahasa besar (Large Language Model/LLM) open-source Indonesia yang memiliki 70 miliar parameter. Model ini dirancang untuk mendukung Bahasa Indonesia sekaligus sejumlah bahasa daerah, antara lain Jawa, Sunda, Bali, dan Batak.
Kehadiran model bahasa tersebut diharapkan mampu memperkuat pengembangan teknologi AI yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia. Tidak hanya untuk penggunaan umum, teknologi ini juga berpotensi dimanfaatkan oleh berbagai sektor, mulai dari pemerintahan hingga dunia usaha dan pengembang aplikasi.
Zankore juga menghadirkan layanan Token-as-a-Service yang dirancang untuk memperluas akses terhadap komputasi AI. Melalui skema ini, masyarakat umum, pelaku UMKM, kementerian dan lembaga, serta pengembang aplikasi dapat memanfaatkan kapasitas komputasi AI tanpa harus memiliki infrastruktur sendiri.
Menkomdigi mengungkapkan bahwa gagasan pembangunan AI Factory sebenarnya telah dipersiapkan dalam waktu cukup panjang. Rencana tersebut bahkan telah disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto sekitar dua tahun lalu sebelum akhirnya memasuki tahap final dan diumumkan kepada publik. "Rencana ini telah digagas sejak awal dan disampaikan dua tahun lalu kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto. Kini seluruh proses telah mencapai tahap final sehingga dapat diumumkan kepada publik," jelas Meutya.
Bersamaan dengan pembangunan AI Factory, Indonesia juga tengah menyiapkan rantai pasok industri AI dari sisi lain. Fasilitas manufaktur GPU pertama di Indonesia sedang dibangun di Cikarang dan ditargetkan diresmikan pada Desember mendatang.
Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan melengkapi ekosistem AI nasional, dari penyediaan perangkat komputasi hingga infrastruktur pendukungnya. Pemerintah menilai Indonesia memiliki sejumlah modal untuk berkembang sebagai pusat infrastruktur AI regional, termasuk kemampuan membangun infrastruktur berskala besar dan dukungan sumber energi yang terus berkembang.