Penerimaan Migas Anjlok 16,8%, Defisit Anggaran Rusia Membengkak Jadi Rp1.411 Triliun

Penulis: Budi Santoso  •  Kamis, 13 Agustus 2026 | 11:22:31 WIB
Pendapatan minyak dan gas bumi Rusia tercatat anjlok 16,8% menjadi USD55,79 miliar pada Januari-Juli 2026.

JAWA TENGAH — Kementerian Keuangan Rusia melaporkan pendapatan negara selama tujuh bulan pertama 2026 masih tumbuh 8,8% menjadi sekitar USD268 miliar. Namun, laju belanja pemerintah jauh lebih cepat, melonjak 14,5% ke angka USD346,9 miliar. Alhasil, defisit anggaran kini setara 2,8% dari produk domestik bruto (PDB) Rusia.

Belanja Negara Melaju Lebih Cepat dari Penerimaan

Pelebaran defisit ini bukan semata-mata karena pemasukan negara menyusut, melainkan juga karena pola belanja yang berubah. Kementerian Keuangan Rusia menjelaskan, percepatan realisasi anggaran terjadi di sejumlah pos belanja. Sejumlah kontrak pemerintah ditandatangani lebih awal dari jadwal, dan pembayaran di muka untuk berbagai pengeluaran pun sudah dieksekusi di periode ini.

Kondisi ini membuat pengeluaran negara membengkak meski pendapatan di luar sektor migas sebenarnya tumbuh solid. Penerimaan non-migas meningkat 18,3% menjadi sekitar USD212,49 miliar, menjadi penopang utama di tengah lemahnya kinerja sektor energi.

Pendapatan Migas Jeblok, Tapi Masih di Atas Target

Sektor energi justru menjadi sumber masalah. Pendapatan minyak dan gas bumi merosot 16,8% menjadi hanya USD55,79 miliar sepanjang Januari-Juli 2026. Penurunan ini sejalan dengan tekanan harga komoditas energi global yang masih bergejolak.

Meski anjlok, Kementerian Keuangan Rusia menegaskan penerimaan migas selama tujuh bulan pertama masih berada di atas tingkat dasar yang ditetapkan dalam undang-undang anggaran negara. Artinya, realisasi pendapatan energi masih lebih baik dari skenario terburuk yang diasumsikan pemerintah saat menyusun APBN.

Dengan tren belanja yang terus dipercepat dan pendapatan migas yang belum pulih, ruang fiskal Rusia untuk sisa tahun 2026 diprediksi semakin sempit. Pemerintah harus menyeimbangkan kebutuhan pembiayaan perang dan belanja sosial di tengah keterbatasan penerimaan dari sektor unggulannya.

Reporter: Budi Santoso
Sumber: ekbis.sindonews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top