5.400 Bibit Kopi Arabika Disiapkan untuk Petani Tombo Batang, Target Hidupkan Lagi Kejayaan Emas Hitam

Penulis: Deni Kurniawan  •  Kamis, 13 Agustus 2026 | 13:21:31 WIB
petani di Desa Tombo, Kecamatan Bandar, menerima 5.400 bibit kopi Arabika untuk ditanam di 27 bidang tanah di luar kawasan hutan.

BATANG — Desa Tombo di Kecamatan Bandar tengah bersiap mengulang kejayaan kopi yang pernah menjadi tulang punggung ekonomi warganya. Setelah puluhan tahun meredup, kebangkitan itu kini diwujudkan lewat penanaman kopi Arabika di lahan milik petani setempat.

Sebanyak 13 petani akan menerima ribuan bibit untuk ditanam di 27 bidang tanah. Seluruh lokasi berada di luar kawasan hutan, sehingga program ini tidak mengganggu fungsi ekologis kawasan.

Kopi Tombo, Komoditas Ekspor yang Sempat Tergantikan Teh

Jejak kopi di Desa Tombo membentang panjang sejak tahun 1800-an. Pemerintah kolonial Belanda menilai kawasan pegunungan setempat yang berada di ketinggian sekitar 900 meter di atas permukaan laut sangat ideal untuk budi daya kopi.

Pasca-kemerdekaan, pengelolaan dialihkan ke PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX melalui Afdeling Jolotigo. Kawasan Wonodadi dan Tombo seluas sekitar 500 hektare ditanami varietas Robusta, khususnya klon Tugusari.

Produksi mencapai puncaknya pada dekade 1990-an dengan volume sekitar 100 ton per tahun. Kopi Tombo saat itu sukses menembus pasar Asia hingga Timur Tengah.

Memasuki era reformasi, kebijakan perkebunan berubah. Areal kopi direplantasi menjadi perkebunan teh, dan catatan kejayaan komoditas ini mulai kabur.

Pengetahuan Petani Menjaga Tradisi Kopi Tetap Hidup

Meski perkebunan skala besar berganti wajah, tradisi kopi tidak pernah benar-benar hilang. Bekas pekerja perkebunan membawa pulang pengetahuan mereka tentang pemeliharaan, pemanenan, hingga pengolahan pascapanen ke kebun mandiri.

Robusta klon Tugusari tetap dirawat sebagai identitas lokal, meski rantai distribusinya hanya menjangkau pasar lokal dan regional. Kini, strategi baru dirancang dengan diversifikasi varietas untuk memperluas peluang.

Bimtek dan Pendampingan untuk Petani

Bimbingan Teknis Budi Daya Kopi Arabika digelar di Pondok Sidawung pada Selasa (11/8). Pelatihan ini menjadi bagian dari program Daerah Aliran Sungai (DAS) Lestari yang mengintegrasikan peningkatan ekonomi warga dengan perlindungan ekosistem.

"Mulai dari penanaman sampai penanganan hama dan penyakit sudah cukup jelas. Ke depan akan saya terapkan dan pahami dalam pengelolaan tanaman kopi," ujar Tarmujo, salah satu petani peserta pelatihan.

Kepala Desa Tombo, Mustajab, menyambut positif antusiasme warganya. "Alhamdulillah, petani sangat antusias. Banyak pertanyaan yang disampaikan dan mudah-mudahan pengetahuan ini mendukung pengembangan kopi Arabika di Tombo sekaligus berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat," ungkapnya.

Mengapa Kopi Dipilih untuk Program DAS Lestari?

Tanaman kopi tergolong Multi-Purpose Tree Species (MPTS) yang bernilai ekonomi tinggi dari buahnya. Akarnya mampu mengikat tanah, mencegah erosi, dan menjaga kestabilan daerah aliran sungai.

General Manager Stakeholder Relation PT Bhimasena Power Indonesia, Aryamir H. Sulasmoro, menegaskan dukungan terhadap masyarakat tidak berhenti pada pembagian bibit. Pendampingan berkala akan terus dilakukan untuk memastikan bibit tumbuh optimal di lapangan.

Dengan pendekatan ini, kebangkitan kopi Tombo tidak hanya mengejar nilai ekonomi, tetapi juga menjaga kelestarian alam di lereng pegunungan Batang.

Reporter: Deni Kurniawan
Sumber: jateng.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top