GROBOGAN — Pemerintah pusat memastikan alokasi anggaran untuk pemulihan infrastruktur pertanian di Grobogan tahun depan. Berdasarkan hasil desk Kementerian PUPR, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Grobogan mencatatkan total pagu mencapai Rp68,5 miliar yang bersumber dari APBN 2026.
Kepala Dinas PUPR Grobogan Een Endarto melalui Kabid Irigasi dan Air Baku, Yudhi Ari Bawa, menyampaikan bahwa pagu terbesar dialokasikan untuk program Instruksi Presiden (Inpres) Irigasi. Nilainya mencapai Rp42 miliar yang tersebar di 15 daerah irigasi (DI) pada tujuh kecamatan.
Yudhi merinci, hasil desk menunjukkan konsentrasi pekerjaan terbesar berada di Kecamatan Wirosari. Enam DI masuk dalam daftar, yaitu DI Tegalrejo, Tirto, Mudal, Clupak, Karangasem, dan Gading. Selain itu, satu Waduk Suko di kecamatan yang sama juga menjadi bagian dari paket kegiatan tersebut.
"Lokasi yang masuk dalam hasil desk meliputi Daerah Irigasi (DI) Tegalrejo, Tirto, Mudal, Clupak, Karangasem, dan Gading yang berlokasi di Kecamatan Wirosari. Selain itu, satu Waduk Suko di Kecamatan Wirosari juga bagian dari kegiatan tersebut," jelasnya pada Kamis (13/8/2026).
Kecamatan Ngaringan menerima alokasi untuk tiga DI, yakni Wotgaleh, Sepreh, dan Ngenden. Sementara itu, Kecamatan Kradenan mendapatkan porsi untuk DI Simo dan Nglangon. Wilayah Toroh mendapat jatah untuk DI Warukaranganyar 1 dan Warukaranganyar 2, serta satu DI Ngrumpeng yang berada di Kecamatan Grobogan.
Selain Inpres Irigasi, Grobogan juga menerima alokasi program P3TGAI senilai Rp26,5 miliar. Program ini menyasar perbaikan jaringan irigasi di tingkat tersier yang selama ini menjadi ujung tombak distribusi air ke sawah petani.
Merujuk Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 1776/KPTS/M/2026, total paket yang diterima sebanyak 136 dengan nilai masing-masing paket Rp195 juta. "Setiap paket bernilai Rp 195 juta yang untuk rehabilitasi, peningkatan, atau pembangunan jaringan irigasi tersier," terang Yudhi.
Penyebaran paket P3TGAI tahun 2026 merata di 18 kecamatan. Kecamatan Gabus menjadi penerima terbanyak dengan 26 paket, disusul Toroh dengan 18 paket, serta Pulokulon dan Geyer masing-masing 12 dan 8 paket. Adapun Kecamatan Wirosari dan Kradenan mendapatkan porsi paling sedikit, masing-masing 1 dan 2 paket.
Yudhi menambahkan, pelaksanaan P3TGAI tidak sekadar proyek konstruksi. Program ini melibatkan partisipasi aktif masyarakat melalui Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) di tingkat desa.
"Kedua program tersebut diharapkan mampu memperkuat layanan jaringan irigasi guna mendukung produktivitas pertanian serta ketahanan pangan," ujarnya.
Keterlibatan P3A dinilai penting untuk memastikan perawatan saluran air berkelanjutan setelah proyek selesai. Selain memperbaiki infrastruktur, program ini juga diharapkan mampu memberdayakan masyarakat dan memberikan manfaat ekonomi langsung di tingkat desa.