JAWA TENGAH — Kisah Citra menjadi ilustrasi konkret yang disampaikan Prabowo di hadapan para pemimpin lembaga tinggi negara, menunjukkan dampak langsung program Sekolah Rakyat bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera. Dalam pidatonya, Prabowo menyebut perjuangan Citra yang harus membantu ibunya yang merupakan penyandang disabilitas berjualan kacang untuk memenuhi kebutuhan keluarga setelah sang ayah meninggal dunia.
"Nanti 10 tahun lagi boleh pacaran. Tapi setelah sabuk hitam karate ya, jadi enggak ada yang berani," kata Prabowo dalam pidatonya yang disiarkan kanal YouTube MPRGOID, disambut tawa hadirin.
Citra hampir kehilangan akses pendidikan saat duduk di kelas 4 SD. Kondisi ekonomi keluarga yang terpuruk memaksanya bekerja membantu ibunda yang memiliki keterbatasan fisik. Namun, kehadiran Sekolah Rakyat mengubah arah hidupnya.
Program ini tidak hanya memulihkan hak pendidikannya, tetapi juga membuka ruang bagi Citra untuk mengembangkan bakat di bidang karate. Prestasi juara tingkat kabupaten yang diraihnya menjadi bukti bahwa anak-anak dari keluarga kurang mampu memiliki potensi yang sama besarnya.
Kisah Citra yang diangkat dalam forum setinggi Sidang Tahunan MPR menegaskan prioritas pemerintah dalam menangani isu kemiskinan melalui pendekatan pendidikan. Sekolah Rakyat dirancang sebagai institusi yang menjangkau anak-anak yang selama ini tidak tersentuh sistem pendidikan formal.
Model ini menjadi salah satu instrumen kunci untuk menekan angka anak tidak sekolah dan memastikan regenerasi keluarga prasejahtera tidak terperangkap dalam lingkaran kemiskinan. Melalui pendidikan dan pengembangan keterampilan seperti yang dialami Citra, pemerintah berharap muncul generasi baru yang lebih mandiri dan berdaya saing.
Pidato tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa evaluasi dan perluasan jangkauan program akan terus dilakukan. Keberhasilan Citra diharapkan menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengimplementasikan program serupa.