WONOGIRI — Sebuah rumah baru berukuran 30 meter persegi di Desa Jaten, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, menjadi percontohan pertama pembangunan rumah bantuan menggunakan bata interlock. Hunian yang diresmikan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen pada Kamis (13/8/2026) itu dibangun dengan anggaran Rp 60 juta dan hanya memakan waktu sekitar 1,5 bulan.
Penggunaan material anyaman semen dan pasir ini memangkas biaya konstruksi hingga sepertiga dibandingkan metode konvensional. Berdasarkan perhitungan tukang, biaya normal pembangunan rumah seluas itu mencapai Rp 90 juta atau Rp 3 juta per meter persegi.
Gus Yasin, sapaan akrab Taj Yasin, menilai teknologi bata interlock mampu menekan anggaran tanpa mengurangi kualitas bangunan. Ia menyebut angka Rp 60 juta untuk rumah 30 meter persegi merupakan hasil yang menggembirakan.
“Kalau dihitung oleh tukang, biasanya satu meter persegi itu Rp3 juta. Berarti kalau 30 meter persegi habisnya Rp90 juta. Tetapi alhamdulillah pembangunan ini kita biayai dengan angka Rp60 juta,” kata Gus Yasin.
Menurut dia, efisiensi biaya dan waktu menjadi alasan Pemprov Jateng mulai menguji bata interlock untuk program bantuan rumah. “Ini yang kita dorong untuk pemakaian, pengaplikasian khususnya untuk bantuan-bantuan rumah dari Pemprov Jawa Tengah,” ujarnya.
Inovasi ini diharapkan mempercepat penanganan rumah tidak layak huni (RTLH) dan backlog perumahan di Jawa Tengah. Pada 2026, Pemprov Jateng mengintervensi peningkatan kualitas 5.111 RTLH yang tersebar di 35 kabupaten/kota. Wonogiri sendiri mendapat jatah 235 unit.
Selain perbaikan kualitas, pemerintah juga menyiapkan pembangunan baru sebanyak 120 unit rumah untuk mengatasi backlog. Sebanyak 20 unit di antaranya berlokasi di Kabupaten Wonogiri.
Salah satu penerima manfaat adalah Isnano Dalhari Nuryanto, warga Desa Jaten yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan Rp 1 juta hingga Rp 2 juta per bulan. Sebelumnya, ia dan keluarganya masih menumpang di tempat lain.
Kini, rumah baru tersebut telah berdiri dan siap ditempati. “Layak banget (rumahnya),” kata Isnano.
Untuk tahap awal, teknologi bata interlock baru diterapkan pada dua rumah. Pemprov Jateng akan mengevaluasi hasil pembangunan sebelum mempertimbangkan penerapannya secara lebih luas pada program bantuan perumahan di masa mendatang.