Surplus Neraca Dagang Juli 2026 Susut ke USD 120 Juta, Impor Melonjak 27%

Penulis: Budi Santoso  •  Jumat, 04 September 2026 | 14:28:01 WIB
Petugas menurunkan kontainer impor di pelabuhan, di tengah data BPS yang mencatat surplus neraca dagang Juli 2026 menyusut menjadi USD 120 juta.

JAWA TENGAH — Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan surplus perdagangan Juli 2026 hanya sebesar USD 0,12 miliar, menyusut signifikan jika dibandingkan tren surplus pada bulan-bulan sebelumnya. Penopang utama kinerja ini adalah surplus sektor nonmigas senilai USD 3,10 miliar, yang nyaris tergerus habis oleh defisit migas hingga USD 2,98 miliar.

Angka tersebut menggambarkan tekanan yang meningkat pada sektor eksternal Indonesia. Total impor pada Juli 2026 mencapai USD 26,09 miliar, melonjak 27,02% secara year-on-year (yoy), sementara ekspor tercatat USD 26,22 miliar dengan pertumbuhan yang jauh lebih moderat.

Struktur Surplus yang Rapuh dan Momentum Impor

Data kumulatif Januari–Juli 2026 menunjukkan akumulasi surplus yang masih positif di angka USD 3,70 miliar. Namun, ketergantungan pada satu kelompok komoditas utama masih terlihat jelas. Sepanjang tahun berjalan, surplus nonmigas sebesar USD 22,45 miliar sebagian besar ditopang oleh ekspor lemak dan minyak hewani/nabati yang mencapai USD 20,96 miliar.

Sinyal perlambatan justru datang dari komoditas batu bara dan logam. Pada Juli 2026, ekspor lemak dan minyak hewani/nabati tercatat turun 6,21% secara bulanan.

Kenaikan impor yang agresif, didominasi bahan baku dan barang modal, mengindikasikan aktivitas manufaktur yang tengah berekspansi. Namun, bagi pelaku pasar, ini berarti kontribusi net ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga berpotensi melemah.

AS dan China: Dua Kutub yang Berseberangan

Dari sisi geografis, Amerika Serikat masih menjadi penyumbang surplus nonmigas terbesar bagi Indonesia. Nilainya mencapai USD 12,81 miliar sepanjang Januari–Juli 2026. India menyusul dengan surplus USD 7,96 miliar, disusul Filipina (USD 4,72 miliar) dan Malaysia (USD 3,39 miliar).

Sebaliknya, defisit terdalam justru terjadi dengan China yang mencapai USD 17,67 miliar. Australia juga mencatat defisit USD 4,41 miliar. Kondisi ini mencerminkan masih derasnya arus barang modal dan bahan baku impor dari China untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri.

Hilirisasi Berbuah, Tetapi Harga Komoditas Menekan

Sektor industri pengolahan tetap menjadi motor utama ekspor dengan kontribusi 82,18% dari total ekspor Januari–Juli 2026. Pertumbuhan ekspor sektor ini mencapai 7,16% secara tahunan, didorong kinerja gemilang aluminium yang melesat 85,78%, serta nikel dan barang daripadanya yang tumbuh 49,84%.

Meski volume dan nilai ekspor hilirisasi meningkat, tekanan harga komoditas global masih menghantui. Penurunan signifikan terjadi pada ekspor logam mulia dan perhiasan yang ambles 40,08% secara kumulatif, serta karet yang terkontraksi 3,18%.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan pentingnya strategi diversifikasi di tengah dinamika global tersebut.

"Surplus perdagangan pada Juli 2026 menunjukkan kinerja ekspor Indonesia tetap terjaga. Diversifikasi pasar dan komoditas ekspor perlu terus diperkuat untuk meningkatkan kontribusi perdagangan nonmigas," ujar Budi Santoso dalam keterangan resminya, Kamis (3/9).

Pernyataan ini menggarisbawahi tantangan ke depan: bagaimana menjaga momentum pertumbuhan ekspor di tengah permintaan global yang lesu, sambil mengendalikan laju impor yang berpotensi menggerus cadangan devisa. Untuk saat ini, semua mata tertuju pada kebijakan pemerintah dalam mempercepat perjanjian dagang baru dan menjaga daya saing produk nasional di pasar non-tradisional.

Reporter: Budi Santoso
Sumber: batamtoday.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top