JAWA TENGAH — Kenaikan ini bukan sekadar isu. IDC dan Counterpoint Research sama-sama mencatat tekanan biaya komponen terbesar terjadi pada sektor memori, dan dampaknya sudah mulai merembet ke komponen lain. Shenghao Bai, Senior Analyst di Counterpoint Research, menyebut perubahan konfigurasi sudah terlihat di sejumlah model. "Pada sejumlah model, kami melihat penurunan komponen seperti modul kamera," ujarnya. Penyesuaian juga menyentuh layar, komponen audio, hingga konfigurasi memori.
Artinya, konsumen tidak selalu dihadapkan pada skenario sederhana berupa harga naik dengan spesifikasi tetap. Dalam sejumlah kasus, produsen justru mengubah spesifikasi perangkat demi menjaga harga jual tetap berada di rentang yang dianggap pasar masih mau membayar.
Akar masalahnya bukan sekadar inflasi komponen biasa. Produsen memori kini mengalokasikan kapasitas produksi DRAM dan NAND secara masif ke infrastruktur AI, terutama High Bandwidth Memory (HBM) untuk pusat data. Daya tariknya jelas: chip memori untuk AI data center kini menyerap sekitar 70 persen produksi global dengan margin 3–5 kali lebih tinggi dibandingkan memori konsumen.
Sementara itu, pertumbuhan pasokan tidak mampu mengejar permintaan. IDC memperkirakan pasokan DRAM pada 2026 hanya tumbuh sekitar 16 persen dan NAND 17 persen—jauh di bawah kisaran 20–30 persen yang sebelumnya diharapkan. Di kuartal I 2026, harga DRAM global naik lebih dari 50 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Harga NAND Flash bahkan melonjak lebih dari 90 persen berdasarkan Counterpoint Memory Price Tracker.
Ryan Reith, Group Vice President for Worldwide Client Devices di IDC, menyebut kelangkaan ini sebagai gangguan rantai pasok yang belum pernah terjadi sebelumnya dan akan terus menekan pasar smartphone sepanjang 2026.
Dampaknya tidak merata di semua kelas harga. Memori menyumbang sekitar 15–20 persen dari total biaya komponen (BOM) smartphone kelas menengah, tapi hanya 10–15 persen pada flagship. Konsekuensinya, kenaikan harga memori jauh lebih terasa pada perangkat murah.
Counterpoint Research mencatat biaya komponen smartphone di bawah USD200—sekitar Rp3,5 juta—telah naik 20–30 persen sejak awal 2026. IDC bahkan mencatat pada kuartal II 2026, memori menyumbang lebih dari 65 persen BOM di segmen entry-level. Segmen di bawah USD100 atau sekitar Rp1,8 juta yang mengirimkan sekitar 173 juta unit sepanjang 2025 disebut paling tertekan.
Di tengah situasi ini, cara menilai smartphone harus bergeser. Kapasitas RAM dan storage tetap penting, tapi bukan lagi satu-satunya indikator nilai. Produsen yang memilih menaikkan harga akan kesulitan di pasar sensitif harga seperti Indonesia, sementara yang memangkas spesifikasi demi menjaga harga berisiko dianggap menipu konsumen.
Konsumen perlu melihat lebih jauh dari sekadar lembar spesifikasi. Umur dukungan software, ketersediaan suku cadang, dan konsistensi performa dalam jangka panjang kini menjadi faktor yang lebih menentukan apakah sebuah HP layak dibeli puluhan juta rupiah.
Dengan harga yang semakin mahal, siklus pemakaian smartphone otomatis memanjang. Daya tahan baterai yang konsisten setelah dua tahun pemakaian, ketahanan fisik terhadap baret dan benturan, serta ketersediaan suku cadang resmi menjadi semacam "asuransi" agar investasi tidak cepat sia-sia.
Perangkat dengan build quality buruk atau baterai yang cepat menurun akan jauh lebih mahal biaya perawatannya dalam jangka panjang—terlebih jika produsen tidak menjamin ketersediaan sparepart.
Pertama, pastikan komitmen update software minimal tiga tahun—baik sistem operasi maupun patch keamanan. Kedua, periksa kapasitas baterai dan efisiensi chipset, karena mengganti baterai di Indonesia bisa memakan biaya Rp500 ribuan hingga Rp1 jutaan tergantung merek. Ketiga, pertimbangkan ketersediaan suku cadang dan jaringan servis resmi di kota kamu.
Harga smartphone memang bisa berubah, tapi cara memilihnya juga harus ikut berubah. Di tengah krisis memori yang belum menunjukkan tanda mereda, membeli HP bukan lagi soal siapa yang menang di atas kertas spesifikasi, melainkan siapa yang paling awet menemani aktivitas harian kamu.