KUDUS — Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Kabupaten Kudus mengimbau para peternak meningkatkan kewaspadaan terhadap kesehatan dan kecukupan pakan ternak di tengah musim kemarau. Imbauan ini menyusul mulai menurunnya pasokan hijauan pakan segar di tingkat peternak.
Kepala Bidang Peternakan Dispertan Kabupaten Kudus, Arin Nikmah, menyatakan kondisi kesehatan hewan membutuhkan perhatian ekstra pada musim ini, terutama terkait daya tahan tubuh dan asupan nutrisi harian ternak.
Arin menjelaskan, hingga saat ini pasokan air minum untuk ternak masih relatif aman. Para peternak disebut masih bisa mengupayakan kebutuhan air sehingga belum ditemukan persoalan berarti dari sisi sumber air.
“Untuk pemenuhan sumber air, sumber minum, itu masih bisa diupayakan. Yang penting saat ini memang asupan nutrisi dan imunitasnya harus diperhatikan,” kata Arin.
Fokus utama saat ini diarahkan pada pemenuhan nutrisi dan penguatan imunitas. Dispertan Kudus masih melakukan pemberian vitamin secara rutin serta melanjutkan program vaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) sebagai langkah pencegahan penyakit.
Meski pasokan air terbilang aman, Arin mengakui tantangan justru muncul dari ketersediaan hijauan pakan segar yang mulai berkurang di lapangan. Kondisi ini menjadi perhatian utama karena bisa berdampak pada kesehatan ternak jika dibiarkan.
“Yang jadi persoalan justru mungkin dalam ketersediaan hijauan pakan segar. Di lapangan juga sudah mulai menurun,” ujarnya.
Menghadapi situasi ini, Dispertan Kudus mendorong peternak beralih ke pakan alternatif yang bisa menggantikan hijauan segar. Upaya serupa sebelumnya telah diperkenalkan lewat pelatihan pembuatan pakan ternak berbahan dasar limbah pertanian.
Pakan alternatif ini bisa diolah dalam bentuk pakan kering atau silase. Bahan baku berupa limbah pertanian dari musim panen sebelumnya dapat diolah dan disimpan, sehingga siap dipakai saat pasokan hijauan mulai terbatas.
Program ini terutama menyasar peternak ruminansia, yakni pemelihara sapi, kerbau, serta kambing dan domba. Kelompok ternak tersebut dinilai paling membutuhkan strategi pengelolaan pakan karena masih sangat bergantung pada hijauan.
Arin berharap kondisi kesehatan ternak selama musim kemarau tetap terjaga. Dengan begitu, para peternak tidak mengalami kerugian akibat ternak yang sakit atau kekurangan pakan.