SD Muhati Pati Jadwalkan Kunjungan Perpustakaan Kelas I-VI, Siapkan Perpustakaan Digital Semester Dua

Penulis: Andi Pratama  •  Rabu, 16 September 2026 | 17:01:01 WIB
Siswa SD Muhati Pati membaca buku di Perpustakaan Darul Ilmi.

PATI — Kepala SD Muhati, Ahmad Sunarto, menyebut jadwal kunjungan rutin itu memberi siswa waktu khusus untuk datang ke perpustakaan, memilih bacaan, membaca, hingga meminjam buku. Pola tersebut berlaku untuk seluruh tingkatan kelas, dari kelas I sampai kelas VI.

Kartu SD Muhati menjadi instrumen utama program ini. Kartu itu dipakai siswa untuk meminjam buku, baik lewat perpustakaan maupun layanan peminjaman yang dikembangkan sekolah. Pemanfaatan kartu direncanakan diperluas untuk memperkuat budaya membaca siswa.

Perpustakaan Darul Ilmi Dibenahi Jadi Ruang Baca Nyaman

Perpustakaan Darul Ilmi terus dibenahi agar lebih menarik bagi siswa. Sofa dan ruang baca yang nyaman disiapkan supaya anak-anak betah berlama-lama membaca.

Pembenahan ini melengkapi program kunjungan terjadwal yang sudah berjalan. Kombinasi keduanya diarahkan agar minat baca siswa tumbuh lewat pengalaman langsung di perpustakaan.

Perpustakaan Digital Ditargetkan Mulai Semester Kedua

Konsep perpustakaan SD Muhati tidak berhenti pada koleksi buku fisik. Sekolah tengah menyiapkan pengembangan perpustakaan digital yang ditargetkan mulai dikembangkan pada semester kedua.

Lewat perpustakaan digital itu, siswa nantinya dapat mengakses ribuan koleksi buku menggunakan perangkat komputer atau monitor yang disediakan di perpustakaan. Pengalaman membaca siswa tidak lagi terbatas pada buku fisik.

"Kalau selama ini anak datang, pinjam buku, membaca, kemudian selesai. Ke depan kami ingin mengembangkan perpustakaan digital. Nantinya ada ribuan buku yang bisa diakses anak-anak melalui perangkat yang kami siapkan," jelas Ahmad Sunarto.

Literasi Produktif: Siswa Didorong Hasilkan Karya Tulis

Selain mendorong kebiasaan membaca, SD Muhati mengembangkan literasi produktif dengan mengajak siswa menghasilkan karya tulis. Program tersebut telah melahirkan sejumlah buku yang dicetak dan menjadi produk nyata dari kegiatan literasi sekolah.

Dua pendekatan itu berjalan berdampingan: membaca sebagai kebiasaan harian, menulis sebagai hasil yang terukur. Buku-buku hasil karya siswa menjadi bukti program literasi sekolah tidak berhenti di ruang baca.

"Secara terjadwal memang ada kunjungan rutin dari kelas satu sampai kelas enam. Jadi anak-anak memiliki waktu khusus untuk datang ke perpustakaan, membaca dan meminjam buku," papar Ahmad Sunarto.

Reporter: Andi Pratama
Sumber: joglojateng.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top