Pemprov Jateng Tetapkan 52 Sekolah dan Madrasah Layak Adiwiyata 2026, 79 Peserta Ikut Seleksi

Penulis: Deni Kurniawan  •  Jumat, 18 September 2026 | 08:01:02 WIB

SEMARANG — Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah Heru Djatmiko menyebut seleksi tahun ini diikuti 38 SMA, 16 SMK, tiga SLB, dan 19 madrasah aliyah. Usulan SMA, SMK, dan SLB datang dari 24 kabupaten/kota, sedangkan usulan MA berasal dari 14 kabupaten/kota.

Dari hasil seleksi, 25 SMA dari 16 kabupaten/kota, 10 SMK dari 17 kabupaten/kota, tiga SLB dari tiga kabupaten/kota, serta 14 MA dari sembilan kabupaten/kota dinyatakan layak.

Penghargaan Bukan Tujuan Akhir

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sumarno menilai status Adiwiyata bukan sekadar berorientasi pada penghargaan. Menurutnya, sekolah Adiwiyata menjadi ruang pendidikan untuk membentuk kebiasaan dan kepedulian siswa terhadap persoalan lingkungan.

"Sekolah Adiwiyata itu adalah sekolah yang lebih peduli lingkungan. Ini menjadi titik yang strategis karena mendidik anak-anak kita untuk lebih menginternalisasi pemahaman tentang kepedulian terhadap masalah lingkungan," kata Sumarno saat menyerahkan penghargaan pada acara Pembinaan dan Gerakan Peduli Lingkungan untuk Lembaga dan Masyarakat di Jawa Tengah, Kamis, 17 September 2026 di Aula Kalpataru, Kantor DLH Provinsi Jawa Tengah.

Ia menegaskan persoalan lingkungan membutuhkan kepedulian dari seluruh lapisan masyarakat. Pendidikan soal lingkungan perlu ditanamkan kepada anak-anak sejak usia dini.

"Lebih dini anak-anak kita yang masih bersih, masih suci itu bisa dididik untuk peduli lingkungan," ujarnya.

Sumarno juga mengapresiasi sekolah di Jawa Tengah yang berkomitmen mengembangkan program Adiwiyata. Penghargaan yang diberikan, menurutnya, dapat menjadi pemicu bagi sekolah lain untuk melakukan hal serupa.

"Kami berharap apa yang dilakukan sekolah-sekolah ini lebih dikembangkan lagi. Apresiasi ini bukan akhir, tetapi menjadi motor motivasi agar sekolah-sekolah lebih bersemangat dan menginspirasi sekolah-sekolah lain untuk menjadi sekolah Adiwiyata," katanya.

Dampak ke Pengelolaan Sampah dan Energi

Penerapan program Adiwiyata mulai menunjukkan dampak pada pengelolaan sumber daya dan lingkungan di sekolah. Berdasarkan capaian pembelajaran hidup hingga 31 Desember 2025, timbulan sampah organik tercatat menurun hingga 8.787 ton per bulan, sampah plastik 378,8 ton per bulan, dan sampah kertas 306,6 ton per bulan.

Konsumsi air bersih turun menjadi 398 meter kubik per bulan. Penggunaan energi listrik juga menurun menjadi 5.041 kWh per bulan.

"Dengan adanya sekolah Adiwiyata ada beberapa hal yang menurun dan itu memang memberikan dampak yang signifikan," kata Heru.

Dorongan agar Sekolah Lain Menyusul

Pemprov Jateng berharap pengembangan sekolah Adiwiyata dilakukan secara bertahap. Targetnya, semakin banyak sekolah di wilayah itu yang menerapkan gerakan peduli lingkungan.

Dari 79 peserta seleksi tahun ini, 52 sekolah dan madrasah resmi menyandang status Adiwiyata Provinsi Jawa Tengah. Sisanya belum masuk daftar penetapan.

Reporter: Deni Kurniawan
Sumber: jatengpos.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top