30 Guru MTs Negeri 13 Boyolali Ikuti Pelatihan Menulis Opini, Canangkan Gerakan "Satu Guru, Satu Karya"

Penulis: Deni Kurniawan  •  Kamis, 24 September 2026 | 08:01:02 WIB
Kepala MTs Negeri 13 Boyolali, Rosyid Eko Priyono, membuka pelatihan menulis opini bagi 30 guru.

BOYOLALI — Kepala MTs Negeri 13 Boyolali, Rosyid Eko Priyono, S.Pd., M.Pd., menyebut pelatihan tersebut sebagai langkah awal menumbuhkan keberanian guru menuangkan gagasan ke dalam berbagai bentuk karya. Karya yang dimaksud mencakup karya ilmiah, artikel, opini, narasi inspiratif, maupun tulisan positif di media sosial.

"Melalui pelatihan ini, diharapkan lahir guru-guru yang berani menuangkan ide dalam bentuk karya ilmiah, artikel, opini, narasi inspiratif maupun tulisan positif di media sosial," kata Rosyid saat membuka kegiatan.

Pengalaman Kelas Diminta Tidak Berhenti di Ruang Pribadi

Rosyid menilai pengalaman dan praktik baik yang selama ini berlangsung di ruang kelas seharusnya tidak hanya berhenti sebagai pengalaman pribadi. Jika dituangkan dalam tulisan, pengalaman tersebut dapat menjadi pengetahuan sekaligus sumber inspirasi bagi sesama pendidik, peserta didik, maupun masyarakat.

Pihaknya berharap program "Satu Guru, Satu Karya" tidak berhenti sebagai sebuah pelatihan, tetapi berkembang menjadi tradisi di lingkungan madrasah.

"Guru sesungguhnya bukan hanya mendidik generasi, tetapi juga dapat meninggalkan jejak pemikiran melalui karya," ujarnya.

Menurut Rosyid, sebuah tulisan mungkin terlihat sederhana. Namun, jika lahir dari pengalaman, ketulusan, dan semangat berbagi, tulisan tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih luas.

"Harapan terbesar dari pelatihan ini adalah lahirnya budaya 'Guru Menulis, Guru Berkarya, Guru Menginspirasi'," katanya.

Menulis Dinilai Latihan Berpikir agar Pikiran Tetap Dinamis

Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan materi mengenai teknik menulis opini di media massa yang disampaikan Dr. Bramastia. Dalam paparannya, Bramastia mengatakan menulis pada dasarnya merupakan aktivitas yang melibatkan proses berpikir.

Kebiasaan menulis, lanjut dia, dapat membantu guru menjaga pikirannya tetap dinamis dan terbuka terhadap berbagai perubahan zaman.

"Guru yang sering menulis bisa menumbuhkan semangat baru dan membuat pikiran senantiasa dinamis menerima perubahan zaman," ungkapnya.

Menurut Bramastia, menulis juga tidak sekadar menghasilkan sebuah karya. Kemampuan menuangkan gagasan melalui tulisan dapat memberikan manfaat bagi diri sendiri sekaligus lingkungan sekitar.

"Menulis bisa menginspirasi diri kita dan lingkungan kita. Menulis merupakan bentuk kesalehan sosial yang bisa berujung meninggikan derajat kita," katanya.

Penutup Opini Diminta Lebih Menggigit

Dalam pelatihan tersebut, Bramastia juga menekankan pentingnya bagian penutup dalam sebuah tulisan opini. Menurut dia, akhir tulisan bukan sekadar formalitas, melainkan bagian penting yang dapat menentukan kesan pembaca terhadap keseluruhan tulisan.

Dia mendorong para guru agar merumuskan closing statement secara kuat, menarik, dan meninggalkan kesan.

"Bagian penutup dari gagasan yang disampaikan hendaknya lebih menarik dan menggigit. Akhir tulisan adalah ending yang harus dirumuskan secara kuat, menarik, dan meninggalkan kesan pada pembaca," ujarnya.

Melalui penutup yang kuat, penulis dapat memberikan penegasan kembali terhadap gagasan yang telah disampaikan sekaligus memperkuat pesan utama dalam opini.

Dengan pelatihan tersebut, MTs Negeri 13 Boyolali berharap gerakan "Satu Guru, Satu Karya" dapat mendorong semakin banyak guru menghasilkan tulisan yang tidak hanya menjadi dokumentasi pengalaman, tetapi juga menjadi jejak pemikiran dan inspirasi bagi dunia pendidikan.

Reporter: Deni Kurniawan
Sumber: joglosemarnews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top