SEMARANG — Ketua Tim Manajemen dan Operasional BMKG Kelas II Jenderal Ahmad Yani Semarang, Giarto, menyebut peningkatan suhu dipicu curah hujan yang rendah dan posisi gerak semu matahari yang bergerak dari ekuator menuju belahan bumi selatan. Pergerakan itu melewati wilayah Indonesia sehingga radiasi matahari yang diterima meningkat.
Menurut Giarto, kondisi tersebut juga berkaitan dengan pengaruh El Nino dengan indeks sangat kuat yang berdampak terhadap berkurangnya curah hujan di Jawa Tengah.
Data normal klimatologis BMKG selama 30 tahun, dari 2000 hingga 2020, menunjukkan Oktober secara historis menjadi bulan dengan suhu tertinggi dalam setahun di Stasiun Meteorologi Jenderal Ahmad Yani.
"Dalam histori catatan normal selama 30 tahun dari tahun 2000 hingga 2020 di BMKG Stasiun Meteorologi Jenderal Ahmad Yani ini menjelaskan, bahwa suhu tertinggi itu selama satu tahun jatuh pada bulan Oktober," jelas Giarto, Selasa (22/9/2026).
Catatan ekstrem menunjukkan suhu 39,6 derajat Celsius pernah terukur pada 2015. Kondisi itu membuat periode September-Oktober menjadi fase ketika masyarakat perlu lebih memperhatikan paparan panas dan kebutuhan air.
Giarto menyebut Oktober masih memiliki potensi hujan yang kecil di Semarang dan Jawa Tengah secara umum. Perubahan kondisi baru berpotensi mulai terasa memasuki November, meski pada tahap awal intensitasnya masih ringan dan belum merata.
"Bulan Oktober mendatang, masih kondisinya curah hujan juga kecil potensinya untuk turun di wilayah Semarang dan juga Jawa Tengah pada umumnya. Sehingga, peningkatan suhu masih terus bisa dirasakan," imbuh Giarto.
BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan kebutuhan cairan tubuh, terutama ketika melakukan aktivitas di luar ruangan. Paparan matahari dengan radiasi cukup tinggi dapat menyebabkan dehidrasi.
"Paparan matahari, radiasi yang cukup tinggi tadi bisa menyebabkan dehidrasi. Untuk asupan, untuk terhidrasi tubuh kita perlu minum," terang Giarto.
Masyarakat juga dianjurkan menyesuaikan waktu aktivitas di luar ruangan sehingga paparan sinar matahari tidak berlangsung terlalu lama. Kebutuhan air perlu diatur dengan bijak selama curah hujan masih rendah, termasuk penggunaan air tanah yang disesuaikan dengan kebutuhan.
Selain persoalan air, kondisi lahan yang kering meningkatkan risiko kebakaran apabila masyarakat melakukan pembakaran secara sembarangan. BMKG meminta setiap aktivitas pembakaran dilakukan dengan pengawasan dan tidak meninggalkan api dalam kondisi menyala.
"Dengan kondisi kekeringan, diimbau tidak melakukan pembakaran lahan dan hutan, atau jika melakukan pembakaran sebaiknya dalam pengawasan," pungkas Giarto.