Hanya 10 Persen Petani Kota Tegal Berusia Muda, Program Petani Milenial Sepi Pendaftar

Penulis: Andi Pratama  •  Minggu, 27 September 2026 | 08:01:31 WIB
Hanya 10 persen dari sekitar 400 petani di Kota Tegal yang berusia muda.

TEGAL — Kondisi regenerasi petani di Kota Tegal berada di titik yang mengkhawatirkan. Dari total sekitar 400 petani terdata, hanya 10 persen yang berusia muda. Angka itu terungkap dalam Talkshow Hari Tani Nasional, Kamis (24/9), yang menghadirkan Chrisanto Panca Prasetyo sebagai narasumber.

"Ada yang mau, tapi persentasenya tidak banyak," ujar Chrisanto saat membahas minat generasi muda terhadap sektor pertanian.

Stigma Kerja Kotor dan Kalah Bersaing dengan Pabrik

Chrisanto menilai stigma lama masih melekat kuat di benak anak muda Tegal. Pertanian diidentikkan dengan pekerjaan kasar: kotor, berpanas-panasan, dan penghasilan tidak pasti.

Dibanding berjuang di bawah terik matahari, banyak anak muda memilih bekerja di pabrik demi kepastian gaji bulanan. Bertani secara konvensional juga penuh risiko, mulai dari modal besar, waktu tunggu minimal tiga bulan, hingga ancaman gagal panen akibat hama, banjir, atau kekeringan.

Traktor hingga Combine Harvester, Wajah Baru Pertanian yang Tak Dikenal Anak Muda

Padahal, cara bertani sudah jauh berubah. Mengolah tanah kini memakai traktor, bukan cangkul manual. Musim panen pun menggunakan mesin modern combine harvester.

Bertani tidak lagi harus punya sawah luas. Konsep pertanian perkotaan seperti hidroponik bisa dikerjakan di halaman rumah. Tanaman cepat panen seperti kangkung atau caisim punya pasar potensial jika dikemas dengan cerdas.

Chrisanto mencontohkan sayuran ikat yang di pasar tradisional hanya dihargai Rp3.000 bisa bernilai dua kali lipat jika dikemas rapi dengan label khusus lalu dipasarkan ke mal atau pasar modern.

"Itu sangat menjanjikan," tegasnya.

Nol Pendaftar Program Petani Milenial di Kota Tegal

Pemerintah sudah menyiapkan Program Petani Milenial untuk menjembatani masalah regenerasi. Lewat program ini, anak muda yang ingin bertani disokong bantuan peralatan modern.

Fasilitas itu justru sepi peminat. Tahun ini, tidak ada satu pun anak muda di Kota Tegal yang mendaftar program tersebut.

Kondisi ini menunjukkan persoalan regenerasi petani bukan sekadar urusan alat atau bantuan modal. Yang perlu diubah adalah pola pikir. Tanpa literasi masif bahwa profesi petani kini bisa tampil modern dan berpenghasilan tinggi, ancaman krisis petani di masa depan bukan isapan jempol.

Kunci Bertani Versi Chrisanto: Kemauan dan Mental Baja

Bagi anak muda yang tertarik mencoba, Chrisanto berpesan bahwa kunci utamanya ada pada kemauan dan mental baja.

"Jika sudah memiliki kemauan dan mental, maka seseorang akan selalu mencari solusi saat menghadapi kendala di lapangan," pungkasnya.

Reporter: Andi Pratama
Sumber: jateng.disway.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top