Ajang Gajah Trail Run (GTR) Ultra 2026 di Dusun Kayuwangi, Desa Gedong, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, menggerakkan perputaran uang warga sekitar hingga Rp 4,5 miliar. Sekitar 900 pelari dari tujuh negara menaklukkan jalur Gunung Gajah, Gunung Telomoyo, dan Gunung Kendil dengan elevasi mencapai 3.000 meter. Rumah warga yang terbatasnya akomodasi disulap jadi homestay untuk menampung peserta.
SEMARANG — Perhelatan Gajah Trail Run (GTR) Ultra 2026 yang digelar Minggu di Dusun Kayuwangi, Desa Gedong, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, meninggalkan jejak ekonomi bagi warga desa. Race Director GTR Ultra 2026 Sri Agus Budi Santoso menyebut jumlah peserta tahun ini naik sekitar 200 orang dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya yang berkisar 700 peserta.
Kenaikan itu berimbas langsung pada aktivitas warga di sekitar lokasi lomba. Keterbatasan hotel di kawasan Kayuwangi membuat sejumlah rumah penduduk beralih fungsi menjadi homestay bagi para pelari.
Peserta GTR Ultra 2026 datang dari tujuh negara, di antaranya Selandia Baru, Prancis, Amerika Serikat, dan Inggris. Jumlah itu bertambah dibandingkan tahun lalu yang hanya mencatat peserta dari empat negara.
Kategori lomba masih sama seperti edisi-edisi sebelumnya, yakni 7 kilometer, 12 kilometer, 30 kilometer, dan 52 kilometer. Kategori terjauh menantang pelari menaklukkan lintasan dari Gunung Gajah, Gunung Telomoyo, hingga Gunung Kendil dengan elevasi sekitar 3.000 meter.
"Gajah Trail Run Ultra 2026 ini pelaksanaan tahun keempat dengan kategori yang masih sama ada 7, 12, 30, 52 (kilometer)," kata Sri Agus Budi Santoso.
Belanja peserta selama mengikuti lomba mengalir ke berbagai kebutuhan, mulai dari akomodasi, konsumsi, hingga aktivitas wisata. Sri Agus memperkirakan rata-rata pengeluaran setiap peserta mencapai sekitar Rp 5 juta, termasuk biaya pendaftaran.
Dengan sekitar 900 peserta, potensi perputaran uang selama GTR Ultra 2026 diperkirakan menyentuh Rp 4,5 miliar.
"Kalau kita hitung rata-rata peserta itu 'spending'-nya Rp 5 juta ya sudah termasuk pendaftaran, Rp 5 juta kali 900 peserta berarti sekitar Rp 4,5 miliar," ujarnya.
Dampak ekonomi paling terasa di sektor penginapan. Sri Agus menyebut jumlah peserta yang menginap di sekitar rumah warga cukup banyak karena pasokan hotel di desa tersebut belum memadai.
"Tentunya dengan jumlah peserta ini yang stay di sekitaran warga ini lumayan banyak. Karena memang tantangannya di desa sini adalah hotel masih belum begitu banyak," katanya.
Kepala Bidang Pembudayaan Olahraga Dispora Jateng Anton Asfihani mengingatkan peserta agar tidak hanya mengejar catatan waktu. Kondisi tubuh selama menaklukkan lintasan juga harus diperhatikan.
"Persiapkan diri kalian sebaik mungkin," kata Anton saat melakukan flag off kategori 52 kilometer.
GTR Ultra 2026 diselenggarakan oleh Escape Nice berkolaborasi dengan Karang Taruna setempat. Ajang ini tercatat di International Trail Running Association (ITRA) dan berafiliasi dengan UTMB atau Ultra-Trail du Mont-Blanc.
Penyelenggaraan trail run di berbagai daerah dinilai menjadi bagian upaya mengembangkan pariwisata olahraga di Jawa Tengah. Sekretaris Daerah Jateng Sumarno sebelumnya menyampaikan hal itu.
"Kita penginnya nanti di seluruh Jawa Tengah ada even 'trail run'. Ini bagian kita untuk pengembangan sport tourism di Jawa Tengah," kata Sumarno.
Bagi warga Kayuwangi, gelaran tahun keempat ini menjadi pemasukan tambahan di luar rutinitas harian. Homestay dadakan, warung, dan jasa konsumsi peserta menjadi kanal ekonomi yang tumbuh setiap kali event digelar.