KEBUMEN — Sekretaris Daerah Kebumen Edi Rianto memaparkan pemetaan ancaman bencana tersebut dalam sesi penyerapan aspirasi Festival Aspirasi Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI terkait kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana. Menurut Edi, bentang wilayah Kebumen yang beragam membuat daerah ini memiliki karakter risiko yang kompleks.
Di sisi selatan, wilayah Kebumen berhadapan langsung dengan Zona Subduksi Indo-Australia sepanjang sekitar 58 kilometer. Bagian utara didominasi kawasan perbukitan, sedangkan bagian tengah berupa dataran rendah.
"Karakteristik geografis dan geologi Kabupaten Kebumen cukup kompleks sehingga memiliki berbagai potensi ancaman bencana," ujar Edi.
Dari hasil pemetaan, sedikitnya ada 11 potensi ancaman bencana yang perlu diantisipasi di Kebumen. Ancaman itu meliputi gempa bumi, tsunami, tanah longsor, likuefaksi, banjir, cuaca ekstrem, hingga wabah penyakit.
Data kejadian bencana periode 2021 sampai triwulan III 2026 memperlihatkan bencana hidrometeorologi sebagai ancaman yang paling sering terjadi. Cuaca ekstrem, tanah longsor, dan banjir mendominasi kejadian bencana di daerah tersebut.
Dampak bencana bukan hanya menyangkut keselamatan warga. Kerusakan fisik akibat tanah longsor tercatat mencapai sekitar Rp9,1 miliar, sedangkan kerugian ekonomi akibat banjir menembus Rp16 miliar.
Persoalan bertambah rumit karena kerusakan daerah irigasi (DI) tercatat mencapai sekitar 2.289 hektare. Kondisi itu turut meningkatkan risiko banjir berulang di sejumlah wilayah Kebumen.
Kombinasi wilayah selatan yang terbuka ke samudra, perbukitan di utara, dan dataran rendah di tengah membuat Kebumen rentan terhadap cuaca ekstrem. Hujan dengan intensitas tinggi memicu longsor di kawasan perbukitan sekaligus banjir di dataran rendah.
Kerusakan jaringan irigasi memperparah kondisi tersebut. Saluran yang rusak membuat air tidak tersalurkan dengan baik sehingga memperbesar peluang genangan dan banjir berulang saat musim hujan.
Festival Aspirasi BAM DPR RI di Kebumen menyoroti kesiapsiagaan masyarakat sebagai bagian dari upaya pengurangan risiko bencana. Pemetaan 11 ancaman itu menjadi dasar bagi pemerintah daerah dan warga dalam menyusun langkah mitigasi.
Pemerintah Kabupaten Kebumen belum merinci jadwal penanganan kerusakan irigasi maupun program mitigasi lanjutan seusai forum tersebut.