WONOGIRI — Pemerintah Kabupaten Wonogiri meresmikan 25 Kecamatan Tangguh Bencana (Kencana) dalam rangkaian peringatan Hari Jadi ke-285 daerah tersebut. Bupati Setyo Sukarno langsung mengukuhkan seluruh kecamatan sebagai bentuk penguatan sistem penanggulangan bencana berbasis komunitas.
Pembentukan Kencana didesain sebagai simpul koordinasi taktis yang menjembatani pergerakan para relawan kemanusiaan dengan otoritas birokrasi di tingkat kecamatan. “Ini bukan sekadar seremoni. Kencana adalah garda depan saat bencana datang,” ujar Bupati Setyo Sukarno dalam sambutannya.
Simpul Koordinasi Relawan dan Birokrasi
Konsep Kencana menjadikan setiap kecamatan sebagai pusat komando penanganan bencana yang terintegrasi. Selama ini, koordinasi antara relawan dan pemerintah kerap terhambat birokrasi yang panjang. Dengan struktur baru ini, setiap pergerakan relawan bisa langsung terhubung dengan otoritas setempat.
Bupati menekankan bahwa Wonogiri memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat, beberapa kecamatan di wilayah selatan dan barat kerap terdampak saat musim penghujan tiba.
Penguatan Kapasitas 25 Kecamatan
Seluruh camat yang wilayahnya dikukuhkan sebagai Kencana kini memiliki tanggung jawab langsung dalam menggerakkan sumber daya manusia dan logistik. Mereka juga wajib menyusun peta risiko dan rencana kontinjensi bersama BPBD dan relawan.
“Relawan bukan lagi berjalan sendiri-sendiri. Ada komando yang jelas, ada jalur komunikasi yang pendek,” kata Kepala Pelaksana BPBD Wonogiri, yang turut mendampingi proses pengukuhan.
Jadwal dan Tindak Lanjut
Setelah pengukuhan ini, masing-masing kecamatan diminta segera membentuk posko siaga dan melakukan simulasi penanganan bencana secara berkala. Pemkab Wonogiri juga mengalokasikan anggaran khusus untuk pelatihan relawan dan pengadaan peralatan dasar kebencanaan di setiap titik.
Bupati berharap, dengan terbentuknya Kencana di seluruh kecamatan, respons terhadap bencana di Wonogiri bisa lebih cepat dan terukur. “Tidak ada lagi alasan lambat karena birokrasi. Semua sudah punya jalur sendiri,” tegasnya.