KLATEN — Rumah kosong yang terbengkalai di tengah area persawahan di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, kini berubah menjadi tempat nongkrong populer. Owah Cafe, nama usaha tersebut, digagas oleh seorang pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang melihat potensi besar dari properti tak terpakai.
Alih-alih membiarkan bangunan itu makin rusak, pemiliknya justru merenovasi total dan menyulapnya menjadi kafe dengan konsep alami. Langkah ini tidak hanya menyelamatkan aset, tetapi juga membuka lapangan kerja baru di lingkungan sekitar.
Modal Usaha dari KUR BRI dan Digitalisasi Pembayaran
Untuk mengembangkan bisnis, pemilik Owah Cafe mengakses pembiayaan dari program KUR BRI. Modal tersebut digunakan untuk merenovasi interior, membeli peralatan dapur, dan mempercantik area outdoor kafe yang menghadap langsung ke hamparan sawah.
BRI juga memfasilitasi digitalisasi sistem pembayaran pada kasir Owah Cafe. Perangkat mesin Electronic Data Capture (EDC) dan kode QRIS disediakan guna menekan volume peredaran uang tunai serta memudahkan transaksi pengunjung.
Dari Bangunan Terbengkalai Jadi Ikon Wisata Kuliner
Konsep unik kafe yang menyatu dengan alam menjadi daya tarik utama. Pengunjung bisa menikmati kopi dan makanan ringan sambil memandangi pemandangan persawahan hijau yang menyejukkan. Suasana ini sulit ditemukan di kafe-kafe di pusat kota.
“Dulu rumah ini hampir roboh dan tidak terawat. Sekarang setiap akhir pekan ramai pengunjung, bahkan banyak yang datang dari luar kota,” ujar pemilik Owah Cafe yang enggan disebutkan namanya.
Dampak Ekonomi bagi Warga Sekitar
Kehadiran Owah Cafe memberikan efek berganda bagi perekonomian warga. Beberapa tetangga di sekitar lokasi kafe kini ikut berjualan makanan ringan atau menyediakan lahan parkir untuk pengunjung.
Keberhasilan transformasi ini membuktikan bahwa properti mangkrak di daerah pedesaan bisa diubah menjadi aset produktif. Dengan dukungan permodalan dari perbankan dan adopsi teknologi pembayaran digital, sektor UMKM di Klaten mulai menunjukkan geliat positif pasca-pandemi.