Pelaksana Harian (Plh) Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Anggis Rakhmi, menyatakan lonjakan harga terjadi karena dua faktor. Pertama, penurunan produktivitas di sentra produksi hortikultura. Kedua, meningkatnya permintaan masyarakat menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Iduladha dan musim hajatan di berbagai daerah.
“Penurunan produktivitas terjadi di sejumlah sentra produksi seperti Temanggung untuk cabai, serta Pati dan Demak untuk bawang merah,” ujar Anggis dalam keterangan resmi, Sabtu (6/6/2026).
Minyak Goreng dan Ponsel Ikut Andil Tekan Inflasi
Selain komoditas sayur, inflasi juga dipicu oleh kenaikan harga minyak goreng akibat keterbatasan pasokan dan biaya produksi yang naik, termasuk harga plastik kemasan. Sektor lain yang ikut mendorong inflasi adalah kelompok Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan yang memberikan andil 0,06 persen. Kenaikan harga telepon seluler terjadi seiring melonjaknya harga komponen elektronik global seperti chipset dan memori.
Dampak penyesuaian harga LPG non-subsidi pada April 2026 juga masih terasa di kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga.
Harga Telur dan Daging Ayam Justru Turun, Emas Perhiasan Ikut Deflasi
Meski inflasi terjadi, ada kabar baik bagi konsumen. Harga telur ayam ras dan daging ayam ras justru turun karena pasokan di tingkat peternak melimpah. Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya juga mengalami deflasi, didorong oleh penurunan harga emas perhiasan yang mengikuti koreksi harga emas global.
“Deflasi pada kelompok tersebut terutama didorong oleh komoditas emas perhiasan seiring tren koreksi harga emas global dalam beberapa bulan terakhir,” jelas Anggis.
Surakarta, Kudus, dan Cilacap Jadi Kota dengan Inflasi Tertinggi
Secara spasial, seluruh kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jawa Tengah mencatat inflasi pada Mei 2026. Inflasi bulanan tertinggi terjadi di Surakarta, Kudus, dan Cilacap yang masing-masing mencapai 0,31 persen. Adapun secara tahunan (year on year), inflasi tertinggi terjadi di Cilacap sebesar 3,22 persen, disusul Kabupaten Wonogiri 3,02 persen, dan Kota Tegal 2,90 persen.
Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Jawa Tengah dan kabupaten/kota akan terus memperkuat koordinasi. “Fokus program pengendalian inflasi ditujukan untuk menjaga kecukupan pasokan dan kelancaran distribusi barang atau komoditas di Jawa Tengah sehingga inflasi dapat terjaga dalam rentang sasaran 2,5±1 persen,” pungkas Anggis.