SEMARANG — Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang (Antam) kembali naik pada awal pekan ini. Berdasarkan data Logam Mulia, harga emas ukuran 1 gram naik Rp 5.000 menjadi Rp 2.743.000 per gram pada Senin (8/6). Harga buyback juga ikut naik Rp 9.000 ke posisi Rp 2.540.000 per gram.
Selisih antara harga jual dan harga beli kembali hari ini mencapai Rp 203.000 per gram. Angka ini menjadi catatan penting bagi calon investor di Jawa Tengah yang berniat membeli emas untuk spekulasi jangka pendek. “Kalau pagi ini beli Rp 2.743.000, lalu terpaksa jual siang harinya, Logam Mulia hanya menghargai Rp 2.540.000,” demikian tertulis dalam keterangan resmi Antam.
Investasi Emas: Hitung Untung-Rugi Sejak 2024
Dengan spread setebal itu, emas batangan hanya memberikan keuntungan optimal jika disimpan dalam kurun waktu panjang. Data historis menunjukkan, investor yang membeli emas pada September 2024—saat harga masih Rp 1.405.000 per gram—kini menikmati keuntungan 80,78 persen. Pembelian pada Maret 2025 di harga Rp 1.690.000 per gram menghasilkan laba 50,30 persen.
Sebaliknya, mereka yang baru membeli emas sebulan lalu pada 8 Mei 2026 di harga Rp 2.839.000 per gram justru mengalami kerugian 10,53 persen jika dihitung berdasarkan harga buyback saat ini. Begitu pula pembelian pada awal Juni 2026 di Rp 2.799.000 per gram yang mencatatkan rugi 9,25 persen.
Mengapa Harga Buyback Lebih Rendah dari Harga Jual?
Antam menetapkan dua jenis harga untuk produk emas batangannya. Harga jual adalah tarif yang dibayarkan konsumen saat membeli emas di gerai Logam Mulia. Sementara harga buyback adalah patokan yang digunakan perusahaan saat membeli kembali emas dari nasabah. Selisih keduanya mencakup biaya produksi, margin, dan ongkos pembuatan sertifikat.
Bagi investor ritel di Semarang dan sekitarnya, memahami dua harga ini menjadi kunci agar tidak salah hitung potensi cuan. Emas batangan bukan instrumen trading harian, melainkan aset lindung nilai yang baru terasa untungnya setelah melampaui titik impas di atas harga beli awal.