SEMARANG — Kantong warga Jawa Tengah masih cukup longgar. Inflasi tahunan di provinsi ini pada Mei 2026 tercatat 2,85 persen, lebih rendah 0,23 poin dari rata-rata nasional. Kepala Perwakilan BI Jawa Tengah, M Noor Nugroho, menyebut angka itu tetap berada dalam rentang sasaran nasional 2,5±1 persen.
Strategi 4K Jadi Andalan Kendalikan Harga Pangan
Untuk menjaga stabilitas harga, BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) mengandalkan kerangka 4K. Empat pilar itu meliputi keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. “Inflasi Jawa Tengah pada Mei 2026 tercatat sebesar 2,85 persen (yoy), tetap berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen dan lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,08 persen (yoy),” kata Noor dalam paparannya.
Di lapangan, berbagai program telah dijalankan serentak di 35 kabupaten/kota. Gerakan Pangan Murah (GPM) digelar secara serempak, sementara GPM Mandiri berlangsung di 32 daerah. BI juga mengoptimalkan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) dan program Jateng Agro Berdikari (JTAB) untuk memperkuat rantai pasok.
Dari Hulu ke Digital: BI Dorong Produktivitas Petani dan QRIS
Dari sisi produksi, BI turun langsung ke sektor hulu. Teknologi biosaline dan biochar mulai diperkenalkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Di Kabupaten Magelang, program swasembada bawang putih juga mendapat dukungan penuh. “Pengembangan kelompok unggulan komoditas pangan strategis terus kami dorong,” jelas Noor.
Tak hanya pangan, digitalisasi pembayaran juga melesat. Hingga Juni 2026, jumlah pengguna QRIS di Jawa Tengah mencapai 8,72 juta pengguna. Sebanyak 4,65 juta merchant telah terdaftar, menandakan adopsi sistem pembayaran nontunai yang kian meluas di kalangan UMKM.
Kolaborasi Multi-Pihak untuk Jaga Daya Beli Masyarakat
Noor menegaskan, capaian inflasi ini bukan kerja tunggal BI. Sinergi melibatkan pemerintah daerah, TPID, pelaku usaha, perbankan, hingga akademisi. “Ke depan, kami akan terus memperkuat sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga stabilitas harga, mendorong transformasi ekonomi daerah, memperluas digitalisasi sistem pembayaran, memperkuat sektor UMKM, serta meningkatkan literasi ekonomi masyarakat,” tegasnya.
Dengan inflasi yang tetap rendah, daya beli warga Jawa Tengah diharapkan terjaga. BI optimistis berbagai upaya ini bisa mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan sepanjang tahun.