GROBOGAN — Musim kemarau tahun 2026 memberikan tekanan berat bagi perekonomian warga Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Selain gagal panen sebagian, warga juga terpaksa mengurangi jumlah ternak karena kesulitan mencari rumput untuk pakan setiap harinya.
Di Desa Asamrudung, seorang petani bernama Listiawaty mengaku hasil panennya turun hampir setengah dari kondisi normal. Jika biasanya ia bisa membawa pulang hingga lima kuintal gabah saat musim hujan, kini ia hanya mampu memanen sekitar tiga kuintal.
"Hasil panen berkurang. Kalau biasanya saat musim labo bisa sampai lima kuintal, tapi pas musim kemarau begini paling tiga kuintal," ungkapnya.
Satu-satunya Sapi Dijual karena Pakan Semakin Sulit Dicari
Kesulitan tidak hanya berhenti pada hasil panen yang menurun. Listiawaty harus berjalan lebih jauh untuk mencari rumput demi memberi makan ternaknya yang tersisa. Namun, lahan kering yang membentang membuat usaha tersebut kerap sia-sia.
Untuk menyiasati kondisi ini, keluarganya memilih menjual satu dari dua ekor sapi yang dimiliki. Keputusan itu diambil sebagai jalan keluar paling masuk akal di tengah sulitnya mendapatkan pakan ternak.
"Sekarang tinggal satu sapi. Kemarin ada dua, satu dijual karena musim kemarau susah pakan," katanya.
Hasil Panen Petani di Grobogan Turun Drastis hingga 62 Persen
Nasib serupa dialami Sudarti (47), seorang petani yang menggarap lahan sekitar setengah hektare. Kekeringan yang telah berlangsung sekitar dua bulan membuat hasil panennya jatuh jauh dari perkiraan.
Sudarti biasanya dapat mengumpulkan empat kuintal gabah dari lahannya. Namun pada musim kemarau kali ini, ia hanya membawa pulang satu setengah kuintal atau menyusut sekitar 62 persen dari produksi normalnya.
"Biasanya dapat empat kuintal, kalau ini cuma satu setengah kuintal," ujar Sudarti.
Petani Kini Hanya Bisa Panen Dua Kali dalam Setahun
Kekeringan yang berkepanjangan juga mengubah pola tanam warga. Jika pada kondisi normal petani bisa panen hingga tiga kali setahun, kini intensitas tersebut menurun drastis.
Akibat keterbatasan air, lahan hanya mampu ditanami dua kali dalam setahun. Saat musim hujan, petani menanam padi. Namun ketika kemarau tiba, sebagian memilih mengganti dengan jagung atau bahkan membiarkan lahannya kosong tanpa ditanami.
Sudarti menjelaskan, lahan pertanian di wilayahnya tidak memiliki sumber air yang bisa diandalkan. Sumur warga pun ikut kering sehingga pasokan air hanya bergantung pada datangnya musim hujan.
"Sumurnya tidak ada sumbernya. Kalau ada airnya ya pas musim hujan. Kalau musim ketiga sudah tidak ada sumber air," katanya.
Petani Grobogan Bersiap Menghadapi Musim Hujan
Di tengah keterbatasan air, sejumlah petani mulai melakukan persiapan menghadapi musim penghujan. Mereka memilih mengolah atau mencangkul tanah agar lahan siap ditanami saat hujan pertama tiba.
Kondisi ini menggambarkan bahwa dampak kemarau tidak hanya mengancam produksi pertanian, tetapi juga kehidupan ekonomi warga di daerah rawan kekeringan. Menurunnya hasil panen, berkurangnya masa tanam, hingga penjualan ternak menjadi strategi bertahan yang harus dilakukan masyarakat di tengah terbatasnya sumber air.