Pencarian

HUT ke-75 RSO Soeharso Surakarta Dirayakan dengan Soeharso Inclusive Run 2026, 654 Peserta Termasuk Disabilitas Ikut Berlari

Minggu, 30 Agustus 2026 • 17:01:31 WIB
HUT ke-75 RSO Soeharso Surakarta Dirayakan dengan Soeharso Inclusive Run 2026, 654 Peserta Termasuk Disabilitas Ikut Berlari
Sebanyak 654 peserta mengikuti Soeharso Inclusive Run 2026 dalam rangka HUT ke-75 RSO Soeharso Surakarta, Minggu (30/8/2026) pagi.

SOLO — Semangat kesetaraan dan kebersamaan mewarnai perayaan HUT ke-75 Rumah Sakit Ortopedi (RSO) Soeharso Surakarta. Ribuan peserta dari berbagai latar belakang tumpah ruah dalam Soeharso Inclusive Run 2026 yang digelar di lingkungan rumah sakit, Minggu (30/8/2026) pagi.

Kegiatan yang dimulai dengan flag off pukul 05.30 WIB ini menjadi salah satu rangkaian puncak peringatan 75 tahun perjalanan RSO Soeharso. Event lari ini tidak sekadar ajang olahraga, melainkan wujud nyata komitmen rumah sakit dalam memberikan ruang partisipasi yang sama bagi masyarakat dengan beragam kemampuan.

Kategori Khusus Disabilitas Jadi Daya Tarik Utama

Dari total 654 peserta, panitia membagi perlombaan ke dalam tiga kategori. Kategori 7,5K diikuti 91 peserta, kategori 3K umum diikuti 274 peserta, dan kategori 3K inklusif yang diikuti peserta dari berbagai kelompok disabilitas.

Kategori inklusif menjadi bagian penting dalam perhelatan ini. Peserta yang turut serta berasal dari kelompok disabilitas netra, rungu, hingga intelektual. Mereka berlari berdampingan dengan peserta umum, menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukan halangan untuk berprestasi.

“Kami ingin menunjukkan bahwa setiap individu dengan berbagai kemampuan dan keberagamannya mempunyai ruang yang sama untuk berpartisipasi, bergerak dan mengukir prestasi,” ujar Ketua Panitia HUT ke-75 RSO Soeharso, dr. Kshanti Adhitya, Sp.EM, MM.

Bukan Sekadar Lari, Ada Seminar Edukasi Inklusivitas

Sebelum kegiatan lari dimulai, RSO Soeharso juga menggelar seminar edukasi. Agenda ini menjadi upaya menumbuhkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya nilai inklusivitas dalam kehidupan sehari-hari.

“Selebrasi keberagaman ini menjadi bukti bahwa semangat inklusivitas bukan hanya slogan, tetapi diwujudkan secara nyata melalui ruang partisipasi terbuka bagi semua,” kata Kshanti menegaskan.

Menurutnya, rangkaian HUT ke-75 RSO Soeharso tidak hanya berisi kegiatan olahraga. Sebelumnya, berbagai agenda telah digelar seperti kegiatan ilmiah, seminar, Hospital Fair, Soeharso Award, hingga program transformasi hospitality dan berbagai perlombaan. Rangkaian kegiatan ini masih akan berlanjut hingga akhir tahun dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional.

Legacy dr. Soeharso: Dari Sejarah Perang hingga Inovasi Kesehatan

Direktur Utama RSO Soeharso, Dr. dr. Tito Sumarwoto, Sp.OT (K), M.Kes, MH, MARS, mengatakan peringatan HUT ke-75 menjadi momentum untuk melanjutkan warisan perjuangan dr. Soeharso. Menurutnya, legacy tersebut bukan hanya tentang sejarah pelayanan kepada korban perang, tetapi terus berkembang melalui inovasi dan pelayanan kemanusiaan.

“Ini adalah puncak HUT RS Soeharso ke-75. Ini merupakan legacy dari dr. Soeharso yang kita pertahankan sampai sekarang,” kata Tito.

Ia menjelaskan, RSO Soeharso pernah dikenal sebagai salah satu rumah sakit ortopedi terbaik dan efisien di Asia Tenggara. Semangat tersebut menjadi pijakan bagi rumah sakit untuk terus melakukan inovasi. Dalam waktu dekat, RSO Soeharso akan melakukan pengembangan dan perluasan rumah sakit agar cakupan pelayanan kepada masyarakat semakin luas.

“Kita terus selalu melakukan inovasi-inovasi. Sebentar lagi kita akan memperluas rumah sakit ini sehingga cakupannya lebih luas lagi. Kita juga akan melayani di luar hospital, selalu meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, tetapi meskipun kita tetap berinovasi, kita tetap selalu melayani pasien dengan humanity,” ujarnya.

Warisan Soeharso Bukan Sekadar Gedung

Ketua Dewan Pengawas RSO Soeharso, Ghotama Airlangga, S.K.M., M.K.M, menilai perjalanan 75 tahun rumah sakit tidak dapat dilepaskan dari perjuangan, pengabdian, inovasi, dan nilai kemanusiaan yang dibangun seluruh insan rumah sakit. Ia menegaskan bahwa warisan RSO Soeharso bukan sekadar bangunan atau fasilitas fisik.

“Kalau kita cerita legacy, warisannya Soeharso bukan cuma gedung, bukan cuma Joglo ini, tapi ada gedung yang lain, ada fasilitas teknologi, termasuk capaian kerja yang teman-teman sudah buat,” ujar Ghotama.

Menurutnya, RSO Soeharso juga memiliki warisan keilmuan yang kuat melalui berbagai jurnal dan pengalaman yang dimiliki para tenaga kesehatan maupun senior rumah sakit. Warisan pengetahuan ini menjadi modal berharga bagi generasi penerus untuk terus mengembangkan pelayanan kesehatan ortopedi di Indonesia.

Follow pantaujateng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: mettanews.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks