Pencarian

Candi Prambanan hingga Borobudur Resmi Jadi Ruang Ibadah, Wagub Jateng Sebut Magnet Wisata Religi Baru

Jumat, 18 September 2026 • 08:01:32 WIB
Candi Prambanan hingga Borobudur Resmi Jadi Ruang Ibadah, Wagub Jateng Sebut Magnet Wisata Religi Baru

SEMARANG — Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menyambut baik kesepakatan pemanfaatan empat candi sebagai ruang ibadah. Menurutnya, penguatan fungsi keagamaan pada Candi Prambanan, Borobudur, Mendut, dan Pawon tidak hanya penting bagi umat Hindu dan Buddha, tetapi juga memperkuat daya tarik wisata religi di Jawa Tengah.

Nota kesepakatan diteken di Auditorium HM Rasjidi, Kementerian Agama RI, Jakarta, Kamis (17/9/2026). Kesepakatan itu melibatkan Kementerian Agama, Kementerian Kebudayaan, Kementerian Pariwisata, BPBUMN, Pemprov Jawa Tengah, dan Pemprov DIY.

Pola Kunjungan Candi Diprediksi Berubah

Taj Yasin menilai penguatan fungsi keagamaan candi dapat membentuk pola kunjungan yang berbeda. Candi tidak lagi hanya jadi destinasi wisata untuk melihat peninggalan sejarah, tetapi juga tujuan umat menjalankan aktivitas keagamaan.

Ia mengibaratkan pola tersebut seperti Makkah dan Vatikan yang punya daya tarik kuat sebagai tujuan perjalanan keagamaan. Ketika Prambanan, Borobudur, Mendut, dan Pawon semakin dihidupkan sebagai ruang ibadah, aktivitas keagamaan dinilai dapat mendorong umat datang kembali dan menghabiskan waktu lebih lama di kawasan tersebut.

Dampak ke Hotel hingga UMKM Sekitar Candi

Dampaknya, kata Taj Yasin, tidak berhenti pada aktivitas ibadah. Pergerakan pengunjung berpotensi menghidupkan sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat, mulai dari perhotelan hingga UMKM di sekitar kawasan candi.

"Perekonomian bukan hanya perhotelan, akan tetapi juga perekonomian yang ada di UMKM karena ibadah itu sebuah magnet tersendiri," katanya.

Ia melanjutkan, penguatan fungsi keagamaan candi sejalan dengan visi Jawa Tengah mengembangkan pariwisata berkelanjutan. Indikator keberhasilan pariwisata, menurutnya, bukan semata jumlah kunjungan, tetapi juga keinginan wisatawan untuk kembali dan tinggal lebih lama.

Peserta Kegiatan Keagamaan di Candi Terus Bertambah

Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menyebut candi bukan sekadar bangunan peninggalan masa lalu. Di dalamnya tersimpan nilai spiritual, sejarah, kebudayaan, dan pesan peradaban yang perlu terus dijaga.

"Candi tentu bukan sekedar bangunan peninggalan masa lalu. Di dalamnya tersimpan nilai-nilai spiritual, sejarah, kebudayaan, sekaligus juga pesan peradaban," kata Nasaruddin.

Kerja sama pemanfaatan candi untuk kepentingan keagamaan merupakan kelanjutan kerja sama yang dibangun sejak 2022. Melalui kerja sama itu, Candi Prambanan semakin mendapat ruang sebagai tempat peribadatan umat Hindu, sementara Candi Borobudur, Mendut, dan Pawon terus dikembangkan sebagai ruang ibadah umat Buddha.

Partisipasi umat dalam kegiatan keagamaan di kawasan candi menunjukkan perkembangan. Pada 2024, upacara Tawur Agung Kesanga di Candi Prambanan diperkirakan diikuti sekitar 10.000 orang. Di Candi Borobudur, Mendut, dan Pawon, tercatat 24.894 peserta dalam berbagai kegiatan keagamaan Buddha pada tahun yang sama.

Jumlah itu meningkat pada 2025. Kegiatan keagamaan Buddha di berbagai candi melibatkan 33.556 peserta, termasuk umat dari luar negeri.

Target Jadi Pusat Spiritualitas Dunia

Nasaruddin berharap empat candi tersebut ke depan tidak hanya menjadi destinasi kunjungan, tetapi berkembang sebagai pusat spiritualitas dunia yang tetap memberikan manfaat bagi masyarakat.

"Ke depan, kita ingin Candi Prambanan, Borobudur, Mendut, dan Pawon tidak hanya menjadi destinasi yang dikunjungi, tetapi menjadi pusat spiritualitas dunia," ujarnya.

Ia menekankan penguatan pemanfaatan candi sebagai ruang keagamaan harus berjalan beriringan dengan pelestarian kawasan, ketertiban, dan keberlanjutan.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno menambahkan, kesepakatan lintas kementerian dan pemerintah daerah tersebut menjadi bagian upaya menjaga keberagaman. Pemanfaatan candi juga diminta tetap memperhatikan kepentingan umat, warisan budaya, pariwisata, dan ekonomi masyarakat.

"Jadi inilah kehadiran keberadaan candi ini merupakan sebuah bukti dari bukan hanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di zamannya, tetapi juga sebagai sebuah bukti dari toleransi dan keragaman kita yang harus kita terus jaga," kata Pratikno.

Follow pantaujateng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: indoraya.news

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks