MicroStrategy Rugi $12,54 Miliar Saat Mastercard Fokus Kartu Stablecoin

Penulis: Budi Santoso  •  Rabu, 06 Mei 2026 | 10:13:01 WIB
MicroStrategy melaporkan kerugian bersih sebesar $12,54 miliar pada kuartal pertama 2024.

MicroStrategy melaporkan kerugian bersih $12,54 miliar di tengah rencana Michael Saylor menjual bitcoin untuk pembayaran dividen. Sementara itu, Mastercard mulai mengalihkan fokus dari infrastruktur ke kemudahan akses kripto melalui kartu berbasis stablecoin. Langkah strategis ini mencerminkan pergeseran besar dalam cara raksasa global mengelola aset digital dan kebijakan produk mereka.

MicroStrategy mencatatkan kerugian bersih sebesar $12,54 miliar pada kuartal pertama tahun ini. Meski angka tersebut terlihat masif, perusahaan yang dipimpin Michael Saylor ini tetap memegang 818.334 bitcoin dengan harga rata-rata pembelian sebesar $75.537 per koin.

Strategi Dividen Michael Saylor di Tengah Kerugian MicroStrategy

Untuk menutupi kewajiban tahunan sekitar $1,5 miliar, Michael Saylor mengusulkan penjualan sebagian cadangan bitcoin perusahaan guna mendukung pembayaran dividen. Strategi ini muncul saat MicroStrategy memiliki cakupan dividen untuk sekitar 18 bulan ke depan.

Langkah tersebut segera direspons oleh pasar modal. Harga saham MicroStrategy tercatat mengalami penurunan sebesar 4% pada perdagangan luar jam kerja setelah laporan keuangan dan rencana penjualan aset tersebut diumumkan ke publik.

Mastercard Prioritaskan Usabilitas Dibanding Sekadar Membangun Infrastruktur

Dalam konferensi Consensus Miami, SVP Blockchain & Digital Assets Mastercard, Maja Lapcevic, mengungkapkan pergeseran sudut pandang internal perusahaannya. Awalnya, tim kripto Mastercard meyakini bahwa pembangunan infrastruktur adalah kunci utama adopsi massal.

Pandangan tersebut berubah setelah seorang mitra membantu Mastercard melihat masalah dari sisi kemudahan penggunaan. Fokus perusahaan kini bergeser pada cara membuat kripto dapat diakses tanpa kerumitan teknis bagi pengguna awam.

Implementasi nyata dari perubahan strategi ini adalah pengembangan kartu yang terhubung langsung dengan stablecoin. Produk ini menyasar pengguna di pasar yang memiliki akses terbatas terhadap layanan keuangan tradisional, sehingga kripto menjadi solusi praktis untuk transaksi sehari-hari.

Mengubah Narasi Kebijakan Staking Menjadi Layanan Teknis

Chief Strategy Officer Crypto Council for Innovation (CCI), Alison Mangiero, menekankan pentingnya melibatkan praktisi dalam perumusan kebijakan. CCI menyadari adanya kekeliruan dalam mengategorikan staking sebagai produk finansial atau penghasil bunga.

Setelah berdiskusi dengan para pengembang protokol, CCI kini mendorong narasi bahwa staking adalah "layanan teknis", bukan sekadar instrumen keuangan. Perubahan definisi ini sangat krusial dalam menghadapi perdebatan regulasi di Washington agar inovasi tetap bisa berkembang tanpa hambatan hukum yang salah sasaran.

Menghapus Bias dalam Rekrutmen Tim Startup Kripto

Alexandra Wilkis Wilson, Managing Partner di Clerisy, menyoroti masalah keragaman dalam proses perekrutan di industri teknologi. Menurutnya, banyak pemimpin terjebak dalam bias untuk mempekerjakan orang yang memiliki kemiripan dengan diri mereka sendiri.

Wilson mencontohkan sebuah startup beranggotakan 10 orang yang setelah dianalisis ternyata memiliki delapan anggota dengan kepribadian ekstrovert. Ia menegaskan bahwa keragaman internal, termasuk perbedaan cara berpikir dan kepribadian, sama pentingnya dengan keragaman eksternal untuk menghasilkan keputusan bisnis yang lebih matang.

Industri kripto kini berada pada titik di mana suara dari berbagai komunitas, mulai dari pemegang token hingga pengembang jaringan, harus direfleksikan dalam kebijakan publik. Hal ini bertujuan untuk melindungi konsumen sekaligus memastikan ekosistem inovasi tetap tumbuh secara sehat.

Reporter: Budi Santoso
Back to top