SOLO — Kawasan Gladag hingga Pasar Gede di Kota Solo berubah wajah. Ratusan lampion warna-warni bergelantungan, membentuk ornamen hewan-hewan yang diambil dari kisah Jataka, riwayat kelahiran Buddha.
Yang paling menyedot perhatian warga adalah instalasi ular naga raksasa yang melingkar di Jembatan Pasar Gede. Ukurannya yang besar dan detail sisik yang terang benderang membuat jembatan itu berubah menjadi spot foto dadakan.
Dari Gajah hingga Ular Naga, Ada Apa Saja?
Ornamen yang dipasang bukan sekadar hiasan biasa. Setiap bentuk hewan memiliki makna filosofis dalam ajaran Buddha. Mulai dari gajah yang melambangkan kekuatan, hingga ular naga yang dipercaya sebagai penjaga ajaran suci.
Pantauan di lokasi, pengunjung tampak antre untuk berfoto di bawah lampion-lampion tersebut. Banyak dari mereka datang bersama keluarga atau rombongan komunitas.
Bukan Sekadar Hiasan, Ini Daya Tarik Baru Solo
Pemasangan lampion Waisak ini menjadi agenda tahunan yang selalu dinanti. Tahun ini, tema hewan Jataka dipilih untuk memberikan edukasi visual kepada masyarakat tentang nilai-nilai kebaikan dalam kisah kelahiran Buddha.
Warga yang melintas di kawasan Gladag mengaku takjub. "Biasanya cuma lampu biasa, sekarang ada ular naga besar. Keren banget, cocok buat konten Instagram," ujar salah satu pengunjung.
Perayaan Waisak di Solo sendiri biasanya berpusat di beberapa vihara besar. Namun, dengan adanya hiasan lampion di ruang publik ini, nuansa perayaan terasa hingga ke jantung kota.
Kapan Waktu Terbaik Berkunjung?
Lampion dipasang mulai pekan ini dan akan bertahan hingga puncak perayaan Waisak. Pemerintah Kota Solo mengimbau pengunjung untuk tetap tertib dan menjaga kebersihan saat berfoto di lokasi.
Bagi yang ingin menghindari kerumunan, pagi hari menjadi waktu yang lebih sepi. Sementara sore hingga malam hari, lampu lampion menyala maksimal dan memberikan efek visual yang lebih dramatis.