PATI — Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Blora melakukan langkah darurat dengan mendatangi Forum Musyawarah Pabrik Gula (FMPG) di PG Pakis Baru, Kabupaten Pati, Rabu (6/5/2026). Upaya mandiri ini dilakukan guna menyelamatkan nasib petani menyusul kolapsnya operasional PT GMM Bulog di Blora.
Kondisi pabrik gula di Blora tersebut dilaporkan memprihatinkan setelah dua unit boiler mengalami kerusakan berat. Dampaknya, aktivitas pabrik berhenti total, aliran listrik diputus, dan kawasan industri tersebut kini hanya dijaga oleh petugas keamanan tanpa kepastian operasional bagi petani mitra.
Manajemen PG Pakis Baru Beri Syarat Kualitas Tebu
Pimpinan PG Pakis Baru, Amin P., menyambut langsung rombongan petani dan menyatakan kesediaannya membantu proses penggilingan tebu dari wilayah Blora. Namun, pihak pabrik menekankan pentingnya standarisasi kualitas bahan baku yang dikirim oleh petani.
“Kami siap membantu petani Blora. Tapi tebunya harus bersih, jangan ada sogol dan pucuk tebu ikut terbawa,” tegas Amin P. saat menerima kunjungan pengurus APTRI Blora.
PG Pakis Baru sendiri merupakan salah satu produsen gula dengan performa stabil di Jawa Tengah. Pada musim giling 2025, pabrik ini tercatat sebagai salah satu pemilik capaian rendemen tertinggi di wilayah tersebut.
Kritik Tajam Petani terhadap Kelumpuhan PT GMM Bulog
Ketua APTRI Blora, Drs. H. Sunoto, menjelaskan bahwa langkah "mengungsi" ke luar daerah ini merupakan sejarah baru bagi petani tebu Blora. Ia menegaskan bahwa pergerakan ini murni swadaya karena petani merasa ditinggalkan oleh manajemen pabrik maupun pemerintah daerah.
“Kami datang ke sini bukan untuk gagah-gagahan. Petani sudah di ujung tanduk. Tebu siap panen, tapi pabrik sendiri mati suri. Kalau kami diam, petani bisa hancur,” ungkap H. Sunoto.
Mantan Kabag Tanaman PT GMM, Wahyuningsih, yang kini mendampingi petani, turut melontarkan kritik terbuka. Ia mendesak pemerintah pusat segera turun tangan menyediakan pos pemantau tebu di Kecamatan Todanan serta memberikan subsidi angkutan armada tronton untuk menekan biaya distribusi ke Pati.
Aspirasi Petani Blora ke Kementerian Pertanian
Dalam forum tersebut, Sekretaris APTRI Blora, Anton Sudibyo, mengungkapkan kekecewaannya terhadap lambatnya respons pemerintah pusat dalam menangani krisis di Blora. Ia menilai jeritan petani di daerah seolah tidak terdengar hingga ke Jakarta.
“Kami benar-benar gumun. Wong cilik sudah di ambang kebangkrutan, tapi para pemimpin di pusat seperti kehilangan sensitivitas. Jeritan petani seperti dianggap angin lalu,” tegas Anton.
H. Sunoto juga mempertanyakan apakah laporan mengenai ancaman kehancuran petani Blora sudah sampai ke meja Menteri Pertanian. Hal ini merujuk pada tanggapan staf Direktorat Jenderal Perkebunan yang hadir dalam forum tersebut, yang dinilai masih memberikan jawaban normatif terkait krisis yang sedang terjadi.