SEMARANG — Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Mohammad Saleh, menyatakan dukungannya terhadap rencana pembangunan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di tiga kawasan utama: Semarang Raya, Pekalongan Raya, dan Tegal Raya. Menurutnya, proyek ini merupakan jawaban atas persoalan sampah yang kian mendesak.
“Pengolahan sampah menjadi energi listrik merupakan solusi yang sangat baik untuk menjawab persoalan sampah sekaligus mendukung energi ramah lingkungan,” ujar Saleh, Kamis (21/5/2026).
Data yang dihimpun menunjukkan, volume sampah di Jawa Tengah mencapai sekitar 6,3 juta ton per tahun. Angka ini menjadi alarm serius bagi pemerintah daerah untuk segera menemukan terobosan pengelolaan yang efektif dan berkelanjutan.
Saleh menekankan, persoalan sampah tidak bisa ditangani secara parsial. Ia mendorong pendekatan menyeluruh, dari hulu ke hilir, termasuk dengan mengadopsi teknologi pengolahan yang menghasilkan nilai tambah.
Tak hanya PSEL, politisi itu juga mengapresiasi pengelolaan sampah melalui sistem Refuse Derived Fuel (RDF). Menurutnya, inovasi semacam ini membawa manfaat ganda: lingkungan bersih dan ekonomi kerakyatan yang menggeliat.
“Kalau pengelolaan sampah dilakukan dengan baik, bukan hanya lingkungan menjadi bersih, tetapi juga bisa membuka peluang ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.
Rencana pembangunan PSEL menyasar kawasan dengan kepadatan penduduk tinggi dan volume sampah besar: Semarang Raya, Pekalongan Raya, dan Tegal Raya. Ketiga wilayah ini selama ini menjadi penyumbang utama timbunan sampah di Jawa Tengah.
Dukungan dari legislatif diharapkan mempercepat realisasi proyek yang masih dalam tahap kajian dan penyiapan lahan. Saleh meminta semua pihak, termasuk pemerintah kabupaten/kota dan swasta, berkolaborasi agar proyek ini segera terwujud.
Proyek PSEL sendiri merupakan bagian dari program nasional pengelolaan sampah berbasis energi terbarukan. Jika terealisasi, selain mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA), proyek ini juga akan menyuplai listrik ke jaringan PLN setempat.