KUDUS — Sebanyak 15 santri Pondok Pesantren Al Fattah Raudhatul Qur’an di Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, menerima tali asih dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Bantuan diserahkan langsung Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen dalam acara Haflatul Hidzaq Khotmil Qur’an dan Muwadaah, Selasa (9/6).
Pemberian bisyarah ini disambut antusias para santri dan wali santri. Mereka menilai program tersebut bukan hanya bantuan materi, tetapi juga bentuk perhatian pemerintah terhadap perjuangan para penghafal Al-Qur’an.
Siti Aisyah (53), salah seorang wali santri, mengaku terharu melihat putranya menerima bisyarah dari Wakil Gubernur Jawa Tengah. “Alhamdulillah, syukur banget putra saya bisa haflah hari ini. Semoga mendapat barokah. Matur suwun sanget Bapak Taj Yasin sudah memberikan bisyarah kepada putra saya,” ujarnya.
Ia berharap program tali asih bagi para penghafal Al-Qur’an dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak santri yang termotivasi untuk menghafal Al-Qur’an.
Mauliya Aisyah Nilam Amira, salah satu santri penerima bisyarah, mengungkapkan rasa senangnya. “Senang, terima kasih Bapak Wagub,” ucapnya singkat.
Sementara itu, Muhammad Luliyan Hafiz mengaku pertemuannya dengan Wakil Gubernur Taj Yasin menjadi pengalaman berharga yang tidak akan dilupakannya. “Senang banget rasanya bisa ketemu Wakil Gubernur. Ini pengalaman pertama kali. Harapannya bisa bertemu kembali, dan program ini terus dilanjutkan,” katanya.
Dalam sambutannya, Taj Yasin menegaskan bahwa wisuda hafiz Al-Qur’an bukan akhir dari perjalanan seorang penghafal Al-Qur’an. Setelah menyelesaikan hafalan 30 juz, para santri memiliki tanggung jawab lebih besar untuk menjaga, mengulang, dan memperdalam pemahaman terhadap Al-Qur’an.
Menurutnya, Al-Qur’an merupakan sumber kemuliaan sehingga siapa pun yang dekat dengan Al-Qur’an akan diangkat derajatnya oleh Allah SWT. “Adik-adik yang sudah hafal Al-Qur’an jangan berhenti sampai di sini. Hafalannya harus terus dijaga, dibaca, dan diulang. Semakin hafal Al-Qur’an, seharusnya semakin banyak pula interaksinya dengan Al-Qur’an,” ujar Taj Yasin.
Gus Yasin juga mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi proses belajar Al-Qur’an anak-anak. Menurutnya, keberhasilan seorang santri menghafal Al-Qur’an tidak terlepas dari dukungan keluarga yang terus memantau dan mendorong perkembangan hafalan mereka.
“Jangan setelah diwisuda lalu dianggap selesai. Perjalanan masih panjang. Hafalan harus terus dijaga dan diperdalam. Orang tua juga perlu terus mendampingi dan memperhatikan perkembangan anak-anaknya,” pesannya.
Melalui program bisyarah tersebut, Pemprov Jateng berharap semakin banyak generasi muda yang mencintai Al-Qur’an serta menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.