BANJARNEGARA — Di tengah hiruk pikuk pembangunan infrastruktur, Pemerintah Kabupaten Banjarnegara memastikan para pejuang kemerdekaan tidak terlupakan. Melalui peringatan Harvetnas 2026, Pemkab tidak hanya sekadar seremonial, tetapi juga menginstruksikan jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk bergerak cepat memfasilitasi kebutuhan veteran.
Bantuan Konkret untuk Veteran dan Warakawuri
Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik, Sila Satriana, yang mewakili Bupati Banjarnegara, membeberkan sejumlah program bantuan yang telah disiapkan. Selain program RTLH senilai Rp20 juta, Pemkab juga menganggarkan fasilitas pemakaman di Taman Makam Pahlawan (TMP) Sureng Yudha serta penyediaan ambulans untuk mobilitas para veteran.
"Jika kita sebagai generasi muda tidak peduli, tidak ngopeni, dan tidak merasa bahwa kita adalah bagian dari perjuangan mereka, maka kita bisa dikatakan sebagai orang yang zalim," tegas Sila dalam sambutannya.
Mengapa Data Veteran Menjadi Perhatian?
Ketua LVRI Kabupaten Banjarnegara, Ismail, memaparkan data terkini jumlah anggotanya. Tercatat ada 178 orang yang terdiri dari 71 veteran dan 107 warakawuri. Angka ini menjadi dasar penting bagi Dinsos PPPA untuk memastikan tidak ada satu pun pejuang yang terlewat dari pendataan bantuan.
"Usia boleh menua, tetapi semangat juang tidak pernah mengenal batas waktu. Veteran bukan hanya pelaku sejarah, melainkan penjaga nilai-nilai luhur perjuangan bangsa," ujar Ismail.
Melestarikan Sejarah Lisan di Era Digital
Langkah lain yang tak kalah penting, Pemkab mendorong instansi terkait untuk mulai mendokumentasikan sejarah lisan dari para veteran yang masih hidup. Rekam jejak kepahlawanan lokal ini akan dialihwahanakan ke dalam bentuk visual atau digital agar tetap terawat dan bisa diakses generasi mendatang.
Rangkaian Peringatan Harvetnas 2026
Ketua Panitia Harvetnas 2026, Iman Ustaat, melaporkan rangkaian acara diisi dengan ziarah dan tabur bunga di TMP Sureng Yudha. Kegiatan yang didukung penuh oleh hibah Pemkab Banjarnegara melalui Dinsos PPPA dan swadaya anggota ini juga dirangkai dengan tasyakuran serta penyerahan tali asih kepada para veteran.
Penetapan 10 Agustus sebagai Harvetnas sendiri berakar dari sejarah puncak Serangan Umum Surakarta pada 1949, sebuah momentum yang diingat sebagai simbol perlawanan dan ketahanan bangsa.