Pencarian

Karhutla Wonogiri Ancam Lahan Pertanian, Warga 6 Kecamatan Waspadai Serangan Monyet Ekor Panjang

Senin, 28 September 2026 • 13:02:02 WIB
Karhutla Wonogiri Ancam Lahan Pertanian, Warga 6 Kecamatan Waspadai Serangan Monyet Ekor Panjang
Warga di enam kecamatan Wonogiri meningkatkan kewaspadaan terhadap pergerakan monyet ekor panjang pasca karhutla.

WONOGIRI — Kekhawatiran warga Wonogiri terhadap dampak lanjutan karhutla bukan tanpa alasan. Monyet ekor panjang yang habitatnya terbakar diprediksi bergerak mencari sumber makanan baru di luar kawasan hutan. Lahan pertanian, perkebunan, hingga pekarangan rumah menjadi sasaran yang paling mungkin didatangi kawanan satwa tersebut.

Mengapa Monyet Mulai Turun ke Permukiman Warga

Puncak musim kemarau membuat sumber air dan bahan makanan alami di kawasan hutan semakin langka. Ketika vegetasi terbakar, monyet kehilangan tempat berlindung sekaligus pasokan pakan. Kondisi itu memaksa koloni kera ekor panjang mencari lokasi baru yang lebih dekat dengan aktivitas manusia.

Warga Kecamatan Giriwoyo, Eni, mengaku cemas jika hutan terus terbakar dan makanan di dalamnya makin sulit ditemukan. Ia menyebut monyet sudah sering masuk ke lahan pertanian warga.

"Kalau hutannya terbakar dan makanan di sana semakin sulit, kami khawatir monyet turun ke kebun dan mendekati rumah warga. Selama ini saja sudah sering masuk ke lahan pertanian," kata Eni.

Enam Kecamatan Sudah Lama Berhadapan dengan Kera Ekor Panjang

Fenomena monyet masuk ke lahan pertanian bukan persoalan baru di Wonogiri. Warga di sejumlah kecamatan telah lama menghadapi gangguan kera ekor panjang yang turun dari kawasan perbukitan atau hutan untuk mencari makan. Dalam beberapa kejadian, hewan itu tidak hanya berada di kebun, tetapi mendekati pekarangan hingga masuk ke dalam rumah saat menemukan sumber makanan.

Warga Kecamatan Wonogiri, Srini, menyebut keberadaan monyet di sekitar lahan pertanian dan rumah sudah menjadi persoalan yang harus diantisipasi, terutama ketika kondisi hutan semakin kering.

"Kalau musim kemarau biasanya lebih sering kelihatan. Kadang turun ke kebun mencari buah atau makanan. Kalau habitatnya terbakar, kami takut jumlah yang turun semakin banyak," ujar Srini.

Kekhawatiran serupa muncul dari wilayah Wonogiri bagian selatan. Warga Kecamatan Jatiroto menyebut monyet kerap bergerak di sekitar kawasan hutan yang terbakar dan berbatasan dengan lahan pertanian.

"Yang dikhawatirkan bukan hanya tanaman rusak. Kalau sampai masuk rumah, warga juga repot mengusirnya. Apalagi kalau datang berkelompok," kata dia.

Lahan Pertanian di Dekat Perbukitan Paling Rawan

Di Kecamatan Batuwarno, lahan pertanian yang berada dekat kawasan perbukitan menjadi salah satu lokasi yang berpotensi didatangi monyet ketika sumber makanan di habitat alaminya menipis. Warga setempat, Heru, mengaku khawatir kemarau panjang ditambah lahan yang terbakar membuat satwa itu mencari makan hingga ke permukiman.

"Kalau makanan di hutan masih ada mungkin tidak turun terlalu jauh. Tapi sekarang kemarau panjang, ditambah ada lahan yang terbakar. Kami khawatir monyet mencari makan sampai ke permukiman," ujar Heru.

Kekhawatiran tersebut juga dirasakan warga di wilayah Wonogiri timur seperti Jatisrono dan Jatipurno. Monyet yang bergerak mendekati lahan warga bisa menyebabkan tanaman buah, jagung, ketela, maupun hasil pertanian lainnya rusak atau habis dimakan.

Dampak Karhutla Tidak Berhenti Saat Api Padam

Persoalannya, dampak karhutla terhadap satwa liar tidak berhenti ketika api padam. Hilangnya vegetasi dan sumber pakan dapat memaksa satwa mencari lokasi baru yang lebih dekat dengan aktivitas manusia. Jika karhutla benar-benar mencapai ratusan hektare seperti yang diperkirakan, kawasan habitat satwa yang terdampak tentu semakin luas.

Bagi petani, ancaman tersebut bukan perkara kecil. Tanaman yang dirawat berbulan-bulan bisa rusak dalam waktu singkat apabila didatangi kawanan monyet. Warga berharap penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga memperhitungkan dampak lanjutan terhadap satwa dan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan.

Jika monyet mulai masuk ke permukiman dan sulit ditangani, warga sebaiknya melaporkan kepada petugas terkait agar penanganannya tidak membahayakan manusia maupun satwa. Dengan kemarau yang masih berlangsung, warga Wonogiri kini menghadapi dua persoalan sekaligus: menjaga lahan dari ancaman kebakaran dan mengantisipasi satwa liar yang kehilangan habitat.

Follow pantaujateng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: joglosemarnews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks