BANJARNEGARA — Desa Wisata Pagak membuktikan bahwa keterbatasan bentang alam bukan penghalang untuk bersaing di kancah nasional. Tanpa gunung atau pantai, desa di Kecamatan Purwareja Klampok ini justru dianggap istimewa oleh dewan juri karena memiliki ekosistem ekonomi kreatif yang lengkap, dari hulu hingga hilir.
Pencapaian ini diraih melalui proses panjang yang dimulai sejak 2020. Pengelola desa wisata tidak hanya fokus pada pembenahan administrasi dan legalitas, tetapi juga mengembangkan paket wisata berbasis pemberdayaan masyarakat secara konsisten.
Minyak Atsiri Jadi Daya Tarik Utama
Sekretaris Pengelola Desa Wisata Pagak, Widi Prasetyo, mengungkapkan bahwa minyak atsiri menjadi nilai jual yang tidak dimiliki desa wisata lain. Ketertarikan juri muncul saat mengetahui proses produksinya melibatkan UMKM lokal secara penuh.
"Minyak atsiri menjadi point of interest kami. Saat berbincang dengan dewan juri, mereka sangat antusias karena prosesnya lengkap dari hilir ke hulu dan jarang dimiliki oleh desa wisata lain," ujar Widi saat ditemui di lokasi, Selasa (18/8/2026).
Perjalanan Panjang dari Peringkat 126 ke 10 Besar
Keberhasilan ini tidak datang secara instan. Widi menegaskan bahwa proses kurasi berlangsung bertahap dan penuh evaluasi, mulai dari peringkat 126 nasional pada 2024, naik ke 30 besar pada 2025, hingga kini menembus 10 besar Jateng.
"Prosesnya cukup panjang, tidak ujug-ujug masuk 10 besar. Dari evaluasi ajang-ajang sebelumnya, kami terus melengkapi kekurangan, baik dari tertib administrasi, dokumentasi kegiatan, hingga legalitas," jelasnya.
Saat ini pengelola tengah mematangkan integrasi berkas administrasi dan perizinan untuk menyambut visitasi tim juri nasional.
Kolektivitas Warga dan BUMDes Jadi Modal Utama
Kepala Desa Pagak, Sudarwo, menegaskan bahwa prestasi ini merupakan buah dari semangat kolektif masyarakat, penggerak wisata lokal, dan BUMDes. Menurutnya, kebersamaan warga menjadi kekuatan utama yang tidak kalah penting dari potensi alam.
"Prestasi ini bagian dari semangat warga kami. Kebetulan pada 2024 lalu kami juga meraih Peringkat 1 Gelar Desa Wisata Jawa Tengah. Masuknya Pagak ke 10 besar WIA provinsi menjadi pemicu untuk terus membenahi tata kelola," ujar Sudarwo.
Pihaknya menargetkan predikat juara di tingkat nasional agar nama Desa Wisata Pagak dan Kabupaten Banjarnegara semakin dikenal hingga mancanegara. Mimpi besar ini bermuara pada peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat desa.