JAWA TENGAH — PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk menggelar akad kredit massal serentak di seluruh Indonesia dengan total 2.577 debitur, dan untuk pertama kalinya secara nasional menawarkan KPR ber tenor hingga 40 tahun di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Langkah itu memperkuat ekosistem perumahan dari sisi pembiayaan konsumen hingga pelaku usaha properti. Sepanjang 2026 sampai 27 September, BTN telah menyalurkan KPR FLPP untuk 75.487 unit senilai Rp12,57 triliun.
Paragraf pembuka: Akad massal yang dipusatkan di Palu itu memecah peserta menjadi 1.568 debitur KPR Subsidi dan 1.009 debitur produk UMKM. Khusus di Palu, BTN melayani 159 debitur yang terdiri atas 48 debitur KPR Subsidi dan 111 debitur UMKM. Direktur Commercial Banking BTN, Hermita, menyebut pembiayaan dari sisi pasokan hingga permintaan merupakan bagian dari transformasi perseroan untuk memperluas dampak sektor perumahan terhadap perekonomian.
KPR FLPP dan Kredit Program Perumahan Jadi Motor Penyaluran
Sepanjang 2026 hingga 27 September, KPR Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) BTN tersalur ke 75.487 unit dengan nilai Rp12,57 triliun. Angka itu menunjukkan segmen rumah subsidi tetap menjadi tulang punggung bisnis bank pelat merah tersebut.
Di sisi lain, Kredit Program Perumahan (KPP) tercatat Rp5,07 triliun pada periode yang sama. Rinciannya, KPP Supply Rp3,14 triliun dan KPP Demand Rp1,93 triliun. Kombinasi keduanya menggambarkan upaya BTN menjaga keseimbangan antara pembangunan rumah dan kemampuan masyarakat membelinya.
Siapa yang Merasakan Manfaat Tenor Panjang
Fernando Anugrah Cahyono, karyawan tetap PT Palu Grand Hero dengan penghasilan Rp4,4 juta per bulan, menjadi salah satu peserta akad. Ia memperoleh KPR Subsidi dengan plafon kredit Rp167,27 juta dan memilih tenor 35 tahun.
Pilihan tenor yang lebih panjang memberi ruang bagi pekerja berpenghasilan menengah untuk menyesuaikan cicilan dengan kemampuan finansial bulanan. Skema ini pula yang membuat BTN berani membuka opsi tenor hingga 40 tahun secara nasional lewat akad di Palu.
Ekosistem Hulu-Hilir: Pengembang hingga UMKM
BTN tidak hanya membiayai pembeli rumah. Di Kota Palu, perseroan menyalurkan KPP Rp123 miliar kepada 63 UMKM sejak Oktober 2025, terutama pelaku usaha di sektor properti dan konstruksi yang menopang pembangunan hunian.
Kementerian UMKM mencatat ada 33.935 UMKM di Kota Palu. Jumlah itu menjadi pasar yang besar bagi BTN untuk mengaitkan pembiayaan perumahan dengan pertumbuhan usaha lokal.
“Kami BTN di sini siap untuk men-support UMKM di Kota Palu menjadi lebih besar lagi, bukan hanya untuk tingkat lokal, tapi nasional dan global, internasional. Kami punya kerja sama dengan beberapa marketplace. Kita bisa kolaborasikan, misalnya dipilih dulu 100 UMKM yang benar-benar mau kita tingkatkan, kita latih bagaimana cara jualan yang bagus di marketplace, sehingga orang yang sekali beli akan membeli kembali. Tujuannya bukan hanya untuk kebutuhan nasional, tapi sudah untuk ekspor,” ujar Hermita.
Rencana ke Depan
Hermita menyebut ekosistem perumahan tidak berhenti pada transaksi jual beli rumah. Pengembang, kontraktor, pemasok material, hingga pelaku UMKM terlibat di dalamnya, sehingga pembiayaan yang mengalir diharapkan berputar di ekonomi daerah.
BTN memakai pendekatan pelatihan dan kemitraan marketplace untuk mendorong UMKM binaan naik kelas. Targetnya, sebagian pelaku usaha lokal mampu menembus pasar ekspor, bukan sekadar memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Penutup: Bagi BTN, akad massal di Palu menandai dua hal sekaligus: perluasan akses KPR lewat tenor hingga 40 tahun dan penguatan peran bank sebagai penyandang dana ekosistem properti. Dengan penyaluran KPR FLPP yang sudah menembus Rp12,57 triliun hingga 27 September 2026, perseroan mempertahankan posisinya sebagai pemain utama pembiayaan perumahan rakyat.